Belajar Menghargai Diri Sendiri


Assalamaualaikum sahabat fillah…

Alhamdulilah, tugas berat UAS sudah selesai, lega rasanya. Saatnya bersiap siap untuk pertempuran pamungkas! UN 2012. Sukses selalu!

Sahabat, kali ini Ridfa ingin berbagi pengalaman dengan sahabat. Ini tentang Penghargaan atas diri. Semoga sahabat dapat memetik hikmahnya.

Minder adalah hal lumrah yang pernah kita rasakan. Kurang percaya diri atau tidak sama sekali merupakan musuh kronis dalam adaptasi sosial di masyarakat. Minder membuat kita merasa dijauhi, merasa tidak dibutuhkan, merasa tidak dianggap, dan merasa – merasa merana lain.

Rasa kurang percaya diri membuat kita tak mampu mengaktualisasikan diri dengan baik. Rasanya diri ini tidak berharga untuk dapat berpijak di dunia ini, jangankan berpijak melihatnya saja sudah merasa tak pantas. Hal ini tentu menghambat kemajuan pribadi ke arah positif. Karena penyakit yang satu ini, membuat diri statis di tengah jalan atau tak bergerak sama sekali.

Sahabat, ketidakmampuan menghargai diri sendiri berarti merencanakan kegagalan. Selalu menghujat diri dengan kata – kata tercela, membanding – bandingkan diri dengan orang lain, membenci diri tanpa solusi pasti, akan terus membuat hidup kita tertekan.

Akhirnya, pesimisme selalu menghantui diri, oke itu baik jika pesimisme yang dimaksud adalah melihat ralitas – realitas yang terjadi kedepan, baik atau buruknya, serta memiliki banyak perhitungan. Tetapi, jika pesimisme membuat kita enggan untuk melakukan perubahan, inilah yang menjadi permasalahan.

Mari berkaca pada sosok ulama islam terdahulu, adalah Imam Malik seorang Ulama terkemuka Islam yang memiliki ketawadhu’an dan kebesaran jiwa. Saat itu Khalifah yang sangat terkenal, Harun Ar-Rasyid, ingin menemui Imam Malik untuk belajar langsung dari beliau tentang bukunya yang terkenal, Al-Muwatha’.

Lalu, Khalifah Harun Ar-Rasyid meminta penyuruhnya untuk menyampaikan maksud hati beliau. Dan, sobat, inilah yang Imam Malik katakan “Sampaikanlah kepada Khalifah, bahwa ilmu itu dikunjungi dan tidak dia yang mengunjungi”

Khalifah Harun Ar-Rasyid pun datang menemui ke rumah beliau. Sayangnya, disana hanya ada satu kursi, maka Imam Malik berkata “Sayang kursi itu adalah kursi untuk dosen, bila engkau mau datang belajar, maka duduklah di bawah bersama – sama para mahasiswa!”

Sahabat, lihatlah keberanian Imam Malik terhadap penguasa. Ia tidak merasa dirinya lebih rendah dari seoarang penguasa. Ia tetap menjaga wibawa dan berjiwa besar.

Sahabat, untuk menjadi pribadi muslim yang tangguh, menghargai diri sendiri menjadi penting. Percaya akan kemampuan serta potensi yang kita miliki serta menggunakannya untuk kebaikan, merupakan wujud syukur atas karunia Ilahi.

Tidak perlu merasa kita tidak mampu melakukan apapun, Allah Yang Maha Tinggi telah memberikan sarana dan prasana yang lengkap untuk membuat kita dapat berprestasi. Helen Keller saja, yang Buta, Tuli, dan Bisu mampu menggapai prestasi dengan baik, hanya saja ia tidak memuliakan dirinya dengan Islam. Sahabat,  Ada berapa banyak orang di luar sana yang dengan keterbatasannya ia mampu mengguncang dunia.

Abdullah Ibnu Mas’ud adalah contohnya, beliau adalah seorang yang sangat indah bacaan Al-qur’annya, hanya sayang ia memiliki kaki yang kecil dan tidak serasi. Tetapi, ternyata kaki yang kecil itu, menurut Rasullulah jika dibandingkan dengan gunung Uhud, lebih berat kaki Ibnu Mas’ud.

Sahabat, orang akan dihargai saat dia mampu menempatkan rasa malunya sesuai tempatnya. Orang yang memiliki rasa malu adalah orang yang memiliki harga diri yang tinggi. Rumusnya, rasa malu berbanding lurus dengan penghargaan pada diri sendiri.

Malu berbuat jahat, malu berkata tidak senonoh, malu untuk diperbudak setan, malu kepada Allah jika kita melanggar perintahnya, dan malu untuk menentang Rasullulah.

Memiliki kerendahan hati memang baik, sahabat, tetapi bukan berarti harus menghinakan diri. Kita tetap harus menjaga kehormatan dan kewibawaan kita, tetapi tetap menghargai dan menjaga kehormatan orang lain. Sobat, orang yang menjaga kehormatan orang lain termasuk wujud dari penghargaan atas diri sendiri.

Jadi, Bagimanana menghargai diri sendiri?

Jagalah harga diri kita dengan perilaku baik. Bersikap baik. Bekerja dengan baik. Bergaul dengan orang-orang yang baik. Memperlakukan orang lain dengan cara yang baik. Maka harga diri kita akan dengan sendirinya menanjak naik. :)

About these ads

Posted on Maret 31, 2012, in Ibroh, Inspirasi dan Motivasi, Islam For Teens and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan komentar untuk menjalin persahabatan yang Indah...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: