Arsip Bulanan: Mei 2012

Jejak Muslimah Rabbaniyah (Muslimah Dan Emansipasi Part 5)


Bismillahirahmanirrahiim….

Surat Saudariku

Oleh :  HYS250484

Saudariku….,

Sepucuk surat di dalam hatiku

Dengan cinta dan kasih sayang

Kutitipkan ke dalam lubuk hatimu

Cinta suci hanya berharap ridha ilahi

Kasih sejati tak harap surga duniawi

 

Surat kulur di dalam relungmu

Tentang kisah debu – debu jalanan

Yang hinggap – terbang mencari teman pejuang sejati

Tentang kisah mata pena dan pedang

Yang tak pernah hilang menjadi saksi pejuang hakiki

 

Kisah yang tertanam beribu tahun yang lalu di atas bumi

Bersama Hajar, Asiyah, Khadijah, dan Khansa

Yang tak berhenti-diam harapkan asa Rabbnya

Yang korbankan harta-jiwa demi merengkuh hidayah-Nya

 

Kini… bumi yang menuatlah berkata:

Dimana putri – putri sang pejuang

Hajar

Dimana putri – putri sang penyabar

Asiyah

Diaman putri – putri sang penyayang

Khadijah

Dimana putri – putri sang pemberani

Khansa

Jangan belenggu aku tuk menemuai mereka

 

Si tua mengerutkan dahinya

Pupus sudah kerinduannya

 

Sebab…, putri – putri mereka

Sudah hilang diterkam masa

Sudah lapuk dibuih dunia

(Source : Majalah Gerimis)

Sahabat, mari kita berkaca pada wanita – wanita mulia.  Pejuang – pejuang wanita sejati. Bukan mereka yang mengusung emansipasi menuntut persamaan dan kesetaraan. Bukan pula wanita modern yang menginginkan harta dan tahta. Dia adalah wanita mulia. Yang hanya mengharap surga. Dan Kerelaan Sang Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Rasullulah Saw menggambarkan empat garis dan berkata, “Tahukah kalian garis apakah ini? Para sahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.” beliau bersabda, “Wanita – wanita terbaik yang menjadi penghuni surga adalah khadijah binti khuwalid, Fatimah Binti Muhammad, Maryam binti Imron, dan Asiyah binti Muzahim (HR. Tarmidzi)

Dia adalah khadijah Ra, istri mulia. Setia menjadi pendukung tergigih Rasullulah Saw tercinta. Memberikan keteduhan dan membangkitkan semangat kesabaran terhadap segala hujatan dan peinindasan yang diterima Rasul Saw tercepercaya. Maka Janganlah heran jika Jibril datang seraya berkata :

“Wahai Rasullulah, ini Khadijah telah datang kepadamu dengan bejana berisi lauk – pauk, atau makanan, atau minuman. Jika ia datang kepadamu, maka sampaikan salam sejahtera dari Tuhannya dan juga salam dariku, dan sampaikan kepadanya berita gembira tentang sebuah rumah di surga dimana tidak ada kebisingan dan kekacauan.” (HR. Bukhari)

Maryam Binti Imron menjaag kehormatan dan kesucian dirinya, waita terbaik dari seluruh wanita di jagat raya, ketaatan dan kesholehannya tidak diragukan utnuk dijadikan pijakan karena Allah telah memberikan sebuah pujian kepadanya,

“Dan (ingatlah) Maryam Binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab – Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang- orang yang taat.” (QS. At-Tahrim : 12)

Asiyah, istri Fir’aun sangat membenci kemewahan dunia dan kekuasaan seuaminya yang nista, Menolak pengakuan ketuhanan suaminya yang dusta sehingga suaminya menyiksanya sampai arwahnya berpisah dari tubuhnya dan kembali kepada Alloh, Rabb Yang Mulia.

“Dan Allah membuat Isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang – orang yang beriman, ketika ia berkata “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahrim : 11)

Adalah Fathimah Az-Zahra Ra wajahnya dan gaya bicaranya mirip sekali dengan uswah yang mulia, darinyalah keturunan Rasullulah Saw diteruskan. Setia mendampingi ayah di medan dakwah dikala intimidasi kaum kafir dan jahil menyerbu. Sifatnya baik, terpuji, lemah lembut dan juga penyabar. Ayahnya Saw bersabda :

“Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku dan barang siapa yang mengangganggunya berarti mengganggu diriku.” (HR Bukhari)

Dialah Aisyah   Ra, putri khalifah pertama, istri penghulu anak Adam dan wanita yang dicintai Rasullulah Saw. Dia tidak belajar di universitas bergengsi, tidak pula berguru dari cendikia barat atau timur. Akan tetapi dia langsung dididik syaikhul muslimin, Abu Bakar Ra, kemudian dibimbing oleh manusia paling mulia sebagai gurunya yaitu Rasullulah.

Hisyam Bin Urwah menceritakan dari ayahnya dan berkata, “Sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak dapatkan seorang pun yang lebih pintar darinya tentang Al-Qur’an, hal – al yang fardhu, sunnah, syair, yang paling banyak meriwayatkan (hadis), sejarah Arab, Ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu, dan ilmu kedokteran. Maka beliau menjawab, tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejalanya, tatkala ada orang sakit dia menyebutkan gejalanya, dan aku mendnegar dari orang menceritakan perihal sakitnya dan menghapalnya.”

Dia Ridho terhadap empat orang anaknya yang mati di jalan yang suci. Dia memenuhi panggilan agama dan aqidahnya dengan berbagai pengorbanan. Ia menanggalkan baju kejahiliyahan, membimbing anakanya dengan ajakan Islam dan membekali mereka dengan nilai – nilai iman. Al-Khansa Ra, begitulah dia akrab disapa.

Subhanalllah, ini adalah sekelumit siroh muslimah yang berharga. Namun sangat disayangkan ksiah – kisah itu hanya masa dahulu yang telah berlalu. Belum terukir dan tyerptari di sela – sela qalbu yang keras membatu.

Harus ampai kapan kiat menunggu kelahiran mujahidah – mujahidah baru. Sedangkan goncangan – goncangan kejahilan dan nafsu terus menyerbu. Harus sampai kapan kiat menanti wanita – wanita mulia pejuang sejati, sementara orang – orang bodoh di sana berkoar – koar bagaikan pahlawan dan menghancurkan nama baik islam.

Oh! Khadijah Ra, wanita dengan kebijaksanaan cinta yang indah serta sumber ketenangan bagi kekasihanya yang berprofesi sebagai Da’i, menyerukan tauhid ke segenap penjuru negri. “Aku sunggung telah mendapatkan cinta sucinya.” (HR Muslim) begitulah kesan Sang suami, Rasullulah Saw, terhadap dirinya. Dimana ia sekarang?

Dimana Fathimah maryam zaman ini, yang sholehah, taat, menjaga kehormatan dan kesucian diri. Dimana Fatimah Ra yang lembut dan penyabar. Dimana Asiyah yang tegar membela tauhid yang benar. Dimana… Dimana jejak – jejak mutiara muslimah rabbani?

Lihatlah, betapa tangan – tangan busuk, jahat, dan penipu telah menjulur kepadamu di tengah – tengah untuk mengepungmu dan mengeluarkanmu dari kemuliaan, menjerembabkamu dari langit kehormatan serta mencampakkanmu dari telaga kebahagiaan.

Kau tahu, sobat? Tiada jejak yang selamat kecuali mengikuti insan yang telah dijamin jannah di akhirat. Sayangilah diri, dengan mengikuti jejak muslimah Rabbani. Berkaryalah, ukir jejak insan pilihan, kemudian patri jejak itu dengan dalam hingga tidak akan hilang dan padam. Sematkan jejak mulia itu demi generasi masa depan. Agar mereka tidak kehilangan acuan dan sesat di jurang kehancuran.

Sahabat, Saudariku… Teruslah berjuang mengukir jejak – jejak muslimah Rabbaniah. Jangan rapuh oleh zaman yang gaduh. Jangan termakan bualan – bualan kaum feminis dalam mengusung emansipasi sekuler.

Semoga Allah memberikan ‘izzah dan syahidah kepada kita yang berjuang di jalan dakwah mengukir jejak – jejak muslimah Rabbaniah.

Dinukil Khusus dari Majalah Gerimis Edisi 4 Tahun 2 April 2007 Rubrik Pena Ukhti.

Artikel Terkait —>

Pemahaman Yang Salah (Muslimah Dan Emansipasi Part 1)

Pandangan Islam terhadap Wanita (Muslimah Dan Emansipasi Part 2)

Peran Penting Muslimah (Muslimah Dan Emansipasi Part 3)

Perhiasan Terindah (Muslimah Dan Emansipasi Part 4)

Perhiasan Terindah (Muslimah Dan Emansipasi Part 4)


Bismillahirahmanirrahiim…

Menjadi perhiasan terindah dan terbaik memang tidaklah mudah. Laksana mutiara di lautan yang harus bertahan dengan buih – buih serta hempasan ombak. Laksana emas yang harus dibakar sebelum ia benar – benar menjadi perhiasan yang begitu berharga.  Ya, aku tahu, semua itu pilihan. Ada jalan indah tetapi hanya sekedar fatamorgana atau jalan yang terjal namun di puncaknya adalah keindahan yang tiada tara.

Begitulah sobat, seharusnya kita bersyukur menjadi muslimah. Disaat wanita – wanita lain larut dalam kemaksiatan, berlomba meraup kebahagiaan semu di luar sana dengan mengobral aurat mereka, engkau tetap di rumah menjaga kesucianmu. Ketika wanita lain berhias dengan mode ala baratnya, engkau sibuk berhias mempercantik diri dengan balutan ilmu dan ketakwaan.

Tentunya engkau tidak ingin kembali ke dalam lumpur kemaksiatan, bukan? Melumuri tubuhmu dengan kotoran – kotoran dosa. Tentu engkau tidak tega membiarkan hatimu terluka akibat sayatan dosa. Engkau tentu tidak ingin darah keimanan mengalir dari hatimu hingga hilang semua cahaya kehidupan. Sampai akhirnya tak lagi merasakan sakitnya hati saat berdosa. Karena sesungguhnya hanya hati yang hiduplah yang merasakan kepahitan saat berhadapan dengan kemaksiatan.

Bagaimana dengan hatimu, wahai sobat? Apakah masih tetap hidup dengan zikir ataukah mati dengan kemaksiatan yang bersemayam dan berkembang biak di dalamnya? Aku percaya, engkau akan memilih menjadi muslimah sejati daripada harus mengikuti trend – trend setan yang terkutuk, yang menyeret kita untuk menemaninya ke Neraka Jahannam.

Sahabat, islam adalah rumah kita. Rumah kita yang begitu indah dan menawan. Rumah yang, Alhamdulilah, menjadi milik kita sejak kita keluar dari rahim Sang Bunda. Tempat yang benar untuk sampainya amaliah dan ibadah. Karena, tanpa menempati rumah ini kita hanya sekedar menjadi pelomba yang meskipun saja bisa pemenang, kita tidak akan mendapatkan hadiah, karena kita tidak mendaftar ke panitia.

Namun sayang, sahabat – sahabat kita yang lain tidak menyadari betapa rumah ini adalah tempat berteduh kelak dari guyuran siksa api neraka. Mereka tidak menyadari betapa rumah ini begitu istimewa sedang di luar sana berbondong – bondong orang lain ingin masuk merasakan kesejukkan dan keindahannya.

Ironisnya, mereka justru termakan bualan – bualan manis tentang keadilan dan kesetaraan. Tentang bagaimana mereka harus setara dengan Pria. Tentang bagaimana mereka harus memiliki kebebasan untuk melakukan hal apapun yang mereka ingini, termasuk menjadi pecinta sesama jenis. Itulah yang diusung oleh kaum feminis. Mereka bilang melarang seseorang untuk mencintai sesama jenis adalah pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Yaitu hak yang dimiliki individu sejak lahir yang diberikan oleh tuhan. Serta mereka menuntut keadilan untuk setara segala – galanya dengan pria.

Mereka menuntut kepuasan semu yang jauh dari kata Qanaah. Mereka mencari kebahagiaan dengan menuntut hal yang tidak sepatutnya dan selayaknya untuk dituntut. Mereka termakan oleh syubhat – syubhat tentang dien ini. Yang akhirnya membuat mereka yakin bahwa agama ini tidaklah memiliki konsep keadilan yang baik.

Padahal jika mereka mau saja melihat dan meresapi ajaran islam tentang keadilan, saya yakin mereka akan segara bungkam. Kecuali jika dengki dan kesombongan telah mengakar dalam jiwa mereka, berarti mereka meneladani iblis yang terlaknat.

Keadilan yang diajarkan islam adalah standar, upaya, dan proses yang tulus memberikan sesuatu kepada yang berhak dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bukan keadilan yang menuntut semua perlakuan harus sama tanpa memperhatikan kondisi – kondisi yang ada.

Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan kita mengenai Muslimah dan Teori Emansipasi ini.

Baiklah, Setelah sebelumnya kita sudah membahas tentang pemahaman yang salah tentang emansipasi, dilanjutkan dengan pandangan islam terhadap wanita, serta peranan wanita dalam islam, kini kita lanjutkan ke pembahasan bagaimana menjadi perhiasan terindah. Tidak mudah memang. Tetapi sulit bukan berarti tak bisa. Ridfa berharap kawan – kawan semua tidak termakan isu – isu emansipasi yang sudah ngelor ngidul. Serta mengamini bahwa islam adalah agama kaum lelaki hingga membuat orang yang lemah imannya keluar dari agama yang menyelamatkan ini.

Wanita adalah simbol rasa Malu

Itulah pernyataan yang begitu masyur di pada zaman Rasullulah. Wanita adalah simbol rasa malu. Itu berarti wanita adalah simbol akhlak yang paling agung. Hmm… Sobat masih ingatkah dengan artikel sebelumnya tentang Mahkota Akhlak Terindah? “Malu adalah bagian dari iman. Dan, iman tempatnya di surga. Sementara kekejian dari hati yang kesat. Sementara hati yang kesat tempatnya di neraka.”

Subhanallah, itu berarti wanita sebenarnya sangat mudah masuk surga, sahabat! Karena rasa malu sudah menjadi fitrah dirinya. Ini berarti secara naluri, wanita memang berpotensi besar untuk memasuki surganya Allah. Benar saja, Rasullulah bersabda, “Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik

Tetapi, wanita juga sangat mudah memasuki nerakanya Allah semudah ia membuang rasa malu yang sesungguhnya adalah fitrah dirinya.

Saat seorang muslimah membuka hijab kehormatannya, ia membuang rasa malunya. Saat muslimah tertawa terbahak – bahak di depan khalayak ramai tanpa memperdulikan sekitar, ia meninggalkan rasa malunya. Saat muslimah berujar dengan perkataan – perkataan yang tak pantas, ia telah mencampakkan rasa malunya. Saat muslimah berjalan berlenggak – lenggok dengan tujuan menjadi pusat perhatian kaum lelaki, ia telah mengubur rasa malunya. Saat muslimah berdandan – dandan ria untuk orang yang tak pantas memandang kecantikannya, ia telah mematikan rasa malunya. Saat ia berpacaran dan membagi cintanya dengan seorang pria padahal belum halal untuknya berarti ia telah meninggalkan akhlak malu.

Masya Allah, betapa ia tidak malu terhadap Allah yang telah menjadikannya bagaikan Ratu dalam keluarganya. Yang Allah mewajibkan setiap laki – laki dalam keluarganya bertanggung jawab atas keselamatan dirinya. Allah mewajibakan setiap laki – laki dalam keluarganya untuk menjaga kehormatan dirinya meskipun nyawa menjadi taruhannya, Allah katakan itu adalah jihad!

Betapa tidak malu dan segannya kepada Allah seorang muslimah justru menjadi pembangkang padahal ia telah diilhami akhlak – akhlak yang baik dalam keadaan fitrinya. Benar – benar tidak tahu terima kasih jika ia benar – benar membuang Mahkota Akhlak Terindah, malu. :(

Sahabatku, Saudariku… Tahukah engkau bahwa kita adalah benteng dari sekian banyak benteng – benteng islam. Salah satunya adalah membentuk keluarga yang Islami serta membina tugas – tugasnya. Dan semua itu tidak pantas jika diasuh oleh selainmu, muslimah.

Jadi, apakah pantas calon pendidik menunjukkan sikap tak terhormat seperti itu? Apakah panta seorang hamba Allah menunjukkan sikap kurang ajar seperti itu?
Sahabat, memang benar cobaan dan ujian akan selalu datang kepada kita, bagai bumbu kehidupan, begitu kata mereka yang bijak. Tetapi, ingatlah bahwa Allah tidak akan pernah menyia – nyiakan pahala orang yang berbuat baik guna mencari Ridhonya.

Bukankah sudah kukkatakan kepadamu bahwa menjadi Perhiasan terindah Laksana mutiara di lautan yang harus bertahan dengan buih – buih serta hempasan ombak. Laksana emas yang harus dibakar sebelum ia benar – benar menjadi perhiasan yang begitu berharga.  Kita harus tahan dengan kobaran api yang membara, jika ingin menjadi emas yang berharga. Insya Allah, dengan pertolongan Allah kita mempu melakukannya.

Wanita dan Kerendahan hati

Tidak masuk surga orang yang hatinya memendam kesombogan walau seberat biji sawi.” (HR Muslim dan Abu Dawud)

Masya Allah, Rasullulah sampai begitu memperhatikan hal ini, sahabat. Tentang kesombongan yang jika kita membawa kesombongan meskipun seberat atom (bayangkan betapa kecilnya ia) ke negeri akhirat kelak  kita tidak akan masuk surga! Oh bayangkan betapa surga itu begitu indah. Bayangkan betapa kita menjadi bidadari dan mengalahkan bidadari – bidadari yang ada di surga itu. Betapa kita akan memakai baju terindah yang terbuat dari sutra. Kulit kita putih dan mulus tanpa harus diberi pelembab atau lotion. Bagaimana kita bernyanyi di sungai – sungai surga dengan suara yang merdu tanpa latihan vokal.

Sahabat, betapa meruginya kita jika tidak diperkenankan memasuki surganya Allah yang begitu indah. Betapa meruginya kita, hanya gara – gara kesombongan yang menurut kita tak seberapa justru membuat kita terjatuh ke jurang neraka. Na’uzubillahiminzalik.

Kesombongan adalah pakian-Ku dan Kemuliaan adalah jubah-Ku. Siapa yang mau menyaingi-Ku dalam keduanya, pasti Aku siksa!” (HR Imam Ahmad)

Ya, itu adalah selendang milik-Nya. Milik Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang hanya Dia yang berhak disembah, tidak selainnya. Beranikah kita mengambil selendangnya? Beranikah merebutnya dari Tuhan Yang Maha Perkasa?

Sobat, tawadhu (kerendahhatian) akan membawa kita pada kebahagiaan. “Orang yang Tawadhu kepada Allah, pasti dimuliakan Allah” (HR Muslim, Al-Tarmizi, Imam Ahmad)

Siapa yang tawadhu satu derajat kepada Allah, Allah angkat dia satu derajat hingga mencapai surga tertinggi. Sebaliknya, siapa yang sombong satu derajat kepada Allah, Allah rendahkan ia satu derajat hingga mencapai neraka terbawah.” (HR Imam Ahmad)

Lantas, apa arti dari sombong itu? Rasullulah bersabda, “Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Beranikah kita menolak kebenaran bahwa Allah adalah tuhan yang paling adil? Jika kita mengerti itu sudah sepatutnyalah kita menghentikan bualan – bualan tentang Islam adalah agama kaum Pria dan tidak Memenuhi Hak Kaum Wanita. Tidakkah itu berarti bahwa dia merasa lebih adil dari pada Allah??? Wahai orang yang mencemarkan nama baik islam, persiapkan tempatmu di neraka terbawah jika engkau masih enggan menerima kebenaran!

Sahabat, untuk menjadi perhiasan terindah kita harus memiliki kerendahan hati untuk menerima segala kebenaran darimanapun arah datangnya. Apalagi jika kebenaran itu bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang sangat jelas keshahihannya. Pantaskah kita menentangnya? Bukankah itu termasuk dari kesombongan?

Pesan Terakhir Rasullulah

“...Ingatlah, bahwa kaum hawa itu adalah makhluk yang lemah di sampingmu, mereka tidak berkuasa. Kamu telah bawa mereka dengan suatu amanat dari Tuhan dan telah kamu halallkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Dari itu takwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka! Wahai umat, bukankah aku telah menyampaikan?! Ya, Rabb tolonglah saksikan!

Lihatlah, sobat, lihatlah pesan terakhir Rasullulah saat khutbah Arafah. Betapa beliau mewasiatkan untuk memperlakukan kita dengan baik karena, perhatikan dengan baik sahabat apa yang diucapkan Nabi kita, para pria membawa wanita dengan suatu amanat dari Tuhan!! Kita adalah amanat dari tuhan untuk dijaga baik – baik Subhanallah!

Perhtaikan kembali bagaimana Rasullulah menjelaskan bahwa kita dihalalkan kehormatannya untuk Pria dengan kalimat Allah. Betapa tidak main – mainnya membawa seorang wanita menjadi kekasih, harus dengan Kalimat Allah yang agung! Oh… Bagaimana dengan pacaran , sahabat? Mereka mencumbu kita tanpa ikatan apapun, dan kita menerima dengan pasrah! Na’uzubillahiminzalik. Sungguh pacaran hanya menghinakan diri kita. Sungguh wanita akan halal untuk sang Pria jika sang Pria telah mengucapkan tekad yang kuat kepada Allah.

Masihkah kita menganggap bahwa agama ini adalah agama Kaum Pria dan Tidak menghargai wanita sepenuhnya???

Jika masih, perlu dipertanyakan dimana letaknya akal mereka.

Al maratu sholihah

Almaratu Sholihah adalah wanita muslimah yang taat.

Sebaik – baiknya perhiasan. Sebaik – baiknya kebahagian, kesenangan.

Muslimah yang bertakwa menjadi sumber ketenangan,

menebar cinta kasih,

yang diciptakan dari sesuatu yang hidup,

yang begitu sensitif seperti gelas – gelas kristal,

namun juga begitu kuat dalam mengarungi kerasnya hidup,

wanita yang menjadi motor peradaban di genggamannyalah peradaban baik atau buruk,

yang bekerja sama dengan pria sebagai saudara kandungnya untuk menjadi hamba yang bertaqwa,

 muslimah yang mengenakan Mahkota Terindah Akhlak Malu,

Wanita yang memiliki kerendahan hati,

dan  akhirnya ia wanita yang menjadi perhiasan terindah hidup ini.

Tidakkah kita bangga menjadi Muslimah? Sahabatku, saudariku, mari bersama – sama dengan saudarimu ini meraih predikat perhiasan terindah. Agar Allah mencintai kita dan semakin merindukan kita. Agar bidadari jelita di surga sana cemburu karena keshalehan dan kecantikan akhlak kita.

Biarkan perbedaan itu tetap ada, karena sejatinya perbedaan dari Tuhan Yang Maha Esa, Yang hanya satu yang berhak disembah, adalah sebuah keadilan yang nyata.

Pembahasan ini Ridfa dapatkan dari buku – buku serta pengalaman – pengalaman yang Ridfa amati dalam fase kehidupan Ridfa. Pandangan seorang remaja muslimah yang bertekad dan bercita – cita menjadi seorang mujahidah meskipun sudah tertinggal amat jauh dari mereka yang melangkah sedari awal. Tentunya tulisan ini masih sebatas pengetahuan Ridfa yang minim. Sehingga Ridfa perlu sekali ruang diskusi dari Kakak – Kakak yang telah dewasa untuk memperbaiki dan mengoreksi apa – apa yang kurang berkenan.

Berikut Referensi yang Ridfa gunakan untuk menulis artikel mengenai Muslimah Dan Emansipasi

Dr. Amr Khaled. 2012. Buku Pintar Akhlak Memandu  Anda Berkepribadian Muslim Dengan lebih Asyik, lebih otentik. Jakarta : Zaman.

Anna Mariana. 2011. Ketika Allah SWT lebih menyayangi Wanita. Bandung : Ruang Kata

Majalah Gerimis, Islamisasi Kehidupan Indah, Sejuk, dan Menentramkan

K.H Firdaus A.N. 2011. Detik – detik Terakhir Kehidupan Rasullulah Saw. Bogor : Kanza Khasanah

Khamran Pasha. 2012. Humaira, Ibunda Orang Beriman. Jakarta : Zaman

Dr. Setiawan Budi Utomo, Lc. 2005. Gelas – Gelas Kristal Kiat Pesona Muslimah. Jakarta : Akbar Media Eka Sarana

Artikel Terkait —>

Pemahaman Yang Salah (Muslimah Dan Emansipasi Part 1)

Pandangan Islam Terhadap Wanita (Muslimah Dan Emansipasi Part 2)

Peran Penting Muslimah (Muslimah Dan Emansipasi Part 3)

Jejak Muslimah Rabbaniyah (Muslimah Dan Emansipasi Part 5)

Peran Penting Muslimah (Muslimah Dan Emansipasi Part 3)


Bismillahirahmanirrahiim

 

Sahabat – Sahabat Muslim dan Muslimah yang Insya Allah dicintai Allah. Kali ini kita akan kembali mengupas topik tentang Muslimah dan Emansipasi. Semoga celotehanku ini bermanfaat untuk kita semua.

 

Serentan Gelas – Gelas Kristal…

Dalam Buku Pintar Akhlak, Amr Khaled menyebutkan diantara bentuk kasih sayang islam terhadap wanita adalah mengasihi wanita. Sesuai hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhori, Abu dawud, dan tarmdizi berkut ini.

“Nabi Saw, pernah keluar bersama sahabat. Mereka membawa unta untuk dinaiki oleh para sahabat wanita. Diantara sahabat ada Anjasiyah, seorang laki – laki yang memiliki suara merdu, sedang memandu unta para sahabat wanita. Anjasiyah mulai melantunkan Nasyid – Nasyid dengan suara yang indah dan lembut. Begitu merdunya, sampai – sampai untu tersebut berjalan agam miring. Nabi saw. Berkata, ‘Anjasiyah pelan – pelan! Lembutlah kepada para wanita yang laksana kaca ini”

Lagi – lagi kita melihat bagaimana Rasullulah menunjukkan perumpamaan yang baik dan penuh makna tentang wanita. Dalam pengantar buku Gelas – Gelas Kristal, karya Dr. Setiyawan Budi Utomo, dijelaskan mengenai bahasa kenabian tersebut bahwa pesona multidimensi yang dimiliki kaum wanita dalam keadaan fitrinya tersebut akan lebih jelas dalam gambaran gelas – gelas kristal, dan energi emosionalnya yang begitu besar namun mudah meledak dan pecah  sebagaimana kesimpulan para ahli psikolog, akan lebih mudah dipahami dalam gambaran karakter gelas yang getas. (Lihat betapa Islam memiliki sensitivitas yang besar terhadap kaum wanita. Rasullulah benar – benar mengerti siapa kita sebenarnya.)

Kristal sebagai simbol pesona wanita merupakan susunan partikel yang sebangun dan saling mendukung secara kuat dimana ciri khas kristal menurut fisikawan adalah bersifat transparan yang tembus cahaya dan memiliki sturuktur kompak dan teratur.
Bahasa kenabian menggambarkan ilustrasi psikologis emosional wanita yang unik namun sensitif sehingga kita sebagai wanita perlu pengeleloaan yang bijak untuk mengoptimalkan aktualisasi diri kita, tidak berlebihan dan tidak menekan. Sehingga pesonanya dapat merekah ke segala sesuana, menjadi perhiasan terindah karena daya tarik fisik, energi emosional, dan intelektual serta kekayaan talentanya yang super. Tentunya semuanya harus berada dalam koridor islam yang benar.

Jika tidak wanita bukan menjadi khoiru mataa’ tetapi sebagai fitnah yang mengancam pranata kehidupan sosial.

Namun Juga Begitu Kuat

Sahabat, meskipun wanita diibiratkan Gelas – Gelas yang sensitif dan rentan, ternyata Allah memberikan kekuatan yang besar gerhadap wanita.

Hal itu terbukti ternyata Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam saat ia tertidur pulas. Sehingga Adam tidak merasakan sakitnya penciptaanya. Sementara itu kita tahu bahwa persalinan seorang ibu untuk melahirkan sesosok manusia mungil ke dunia butuh pengorbanan dan perjuangan. Tidak peduli yang lahir wanita atau laki – laki, sang ibu harus berhadapan dengan kematian yang senantiasa menghantui.

Kau tahu mengapa itu terjadi? Karena perasaan hawa jauh lebih kuat  daripada perasaan Adam sehingga ia sanggup menjalani proses dan mengatasi sakitnya, sementara Adam tidak tahan. (Hmmm… Sebagian orang mengatakan demikian, sobat)

Ya, kita tahu pada realitasnya Kaum Adam terlihat begitu tegar menanggung beban. Mungkin kita bisa lihat seorang Pria tidak mudah mengeluarkan air matanya. Sementara wanitalah yang banyak mengeluarkannya. Karena itu wanita disebut – sebut sebagai kaum yang lemah. Padahal jika telurusi lebih jauh lagi air mata sebenarnya adalah salah satu dari sekian banyak kekuatan yang Allah SWT anugrahkan kepada kaum wanita dalam mendampingin peran mulianya (Fitrah dan Kodratnya)

Mungkin sobat pernah mendengar syair ini. Ada baiknya kita mengenang kembali syair tentang air mata kehidupan ini. (Saya ambil dari buku Ketika Allah SWT kebih menyayangi wanita karya Anna Mariana)

Allah menciptakan wanita, membuatnya menjadi sangat utama. Ia menciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Allah memberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau seringkali ia kerap berungkali menerima cerca dari buah hatinya.

Allah memberikan keperkasaan, yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang putus asa.

Pada Wanita Allah berikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Allah memberikan wanita perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dalam situasi apapun. Walau tak jarang anak – anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi – bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyaman saat didekap dengan lembut olehnya.

Allah memberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa – masa sulit, da menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuknya yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak!

Allah memberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkanm bahwa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai istrinya. Walau sering kali kebijaksanaan itu menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi dan menyayangi

Dan, Akhirnya, Allah berikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepaa wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan.”

Subhanallah, sahabat, bukankah wanita yang memiliki keutamaan tersebut adalah wanita shalehah? Wanita yang sadar akan jati dirinya sebagai muslimah. Wanita yang berserah diri kepada Allah atas segala takdir serta ketentuannya. Bukan wanita yang berkoar – koar meminta persamaan dalam segala – galanya dengan pria. Dari sini kita pun mengerti menjadi wanita seutuhnya lebih baik daripada harus menjadi wanita yang bersaing dengan pria.

Sahabat, bukankah teori emansipasi orang – orang barat itu justru mencampakkan kelebihan – kelebihan yang Allah berikan kepada wanita? Membuat wanita jauh dari tugas – tugas mulianya? Yang terparah adalah ia akan jauh dari Allah karena menganggap Allah benar – benar tidak Adil dan menganggap bahwa Islam adalah Agama Kaum Pria.

Wanita motor peradaban

Para aktivis feminis menyerang Islam dengan hadis yang menyakan bahwa suatu negara akan hancur jika dipimpin oleh wanita.

Mereka tidak melihat bahwa rasullulah juga bersabda “Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila wanitanya buruk, maka buruk pulalah negara itu.”

Sahabat, ulama memang sepakat bahwa wanita tidak boleh menjadi pemimpin dalam urusan negara. Karena di zaman Rasullulah pun wanita tidak pernah menjadi pemimpin.

Tetapi, kita tidak boleh berkecil hati. Tentunya ada kemaslahatan tersendiri. Ingat! Kita adalah muslim yang berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Jangan biarkan ego kita menguasai diri ini. Hingga membuat kita hina di hadapan Allah. Percayalah dibalik ketentuannya pasti ada hikmah yang sangat indah.

Menurut para ulama, perbaikan masyarakat itu terbagi dalam dua lini, ekternal dan internal. Para laki – laki memperbaiki masyarakat di luar rumah (Eksternal) seperti di pasar- pasar, jalan – jalan, berjihad, dan aktifitas yang membutuhkan keringan serta tenaga yang besar.

Sementara wanita memperbaiki masyarakat di dalam rumahnya. Tentunya hal ini sesuai dengan kodrat wanita, ia memilii sikap lembut dan penyayang. Rumah dapat diartikan sebagai miniatur atau gambaran kehidupan masyarakat yang di dalamnya tercermin mentalitas, intelektualitas, karakter, dan pemahaman agamanya.

Hal itu sejalan dengan hadis Nabi berikut ini,

“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami itu pemimpin bagi keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya itu. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang pembantu itu pemimpin bagi harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari no. 2278 dan Muslim no. 1829)

Sahabat, ingat tidak, saat guru kita mengomeli anak – anak nakal. Mereka tetap saja nakal sementara guru terus saja memberinya nasehat agar menjadi baik. Tetapi, tetap saja, jika dalam dirinya tidak ada kemauan yang besar tidak akan ada perubahan.

Ini berarti pengaruh internal (diri pribadi sang anak ) lebih kuat dari pengaruh eksternal (sang guru). Begitu juga dalam masyarakat pengaruh internal (wanita di rumahya) lebih besar dari pengaruh eksternal (pria). Ow! Sahabat masih tidak percaya?

Dr. Butsainah Ash-Shabuni menceritakan apa yang dikatakan Rouseau “Laki – laki tangguh itu hasil dari usaha wanita. Jadi, jika kalian ingin menjadi laki – laki besar dan dihargai, perhatikanlah wanita. Ajarilah ia tentang kebesaran jiwa dan kemulian”

So, sahabat, lihatlah bagaimana wanita ternyata memiliki peran utama dalam masyarakat. Benar sekali apa yang dikatakan Rasullulah, “Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila wanitanya buruk, maka buruk pulalah negara itu.” Lihatlah Rasullulah mengatakan bahwa sentral utama adalah wanita bukan laki – laki. Karena perbaikan lini ekternal akan berjalan baik jika perbaikan internal tertata dengan apik.

Oh ya, sahabat, sekarang mari lihatlah pengakuan jujur orang barat tentang rusaknya tatanan masyarakat mereka, Samuel Smills berkata “Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat – tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tetapi akhirnya justru menghancurkan kehiudupan rumah tangga. Karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi – sendi keluargam dan merusak hubungan sosial kemasyarakatan, karena itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak – anak dari kerabatnya, sehingga keadaan tertentu tidak ada hasilnya, kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus rumah tangganya…”

Dr. Lidyalin berkata, “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalamn membuktikan bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarganya)-Nya adalah satu – satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang.”

Itulah, sahabat, mengapa Allah menyruh kita untuk berdiam di rumah, “”

Jadi? Masih kukuh untuk mengikuti emansipasi ala barat dengan alasan menjadi wanita modern? Hmmm…

Wanita Saudara kandung Pria

Sudahlah, kawan… Akhiri saja pertarungan antara pria dan wanita ini. Aku lelah melihat mereka berteriak – teriak hingga pita suaranya tak bergetar lagi. Huft! Hentikan! Karena wanita dan pria itu sama – sama manusia. Memang Allah sebagian melebihi sebagian yang lain. Agar sebagian memanfaatkan sebagian yang lain. Sebagian membutuhkan sebagian yang lain.

Sekarang mari kita resapi hadis Rasullulah berikut ini, sebuah hadis menganggumkan yang menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama kaum pria. Bahwa islam sangat menyayangi dan mencintai wanita.

“Sesungguhnya kaum wanita itu adalah saudara kandung kaum pria, maka sayangilah mereka sebagaimana kalian menyayangi diri kalian sendiri.” (HR Abu Daud Dan Tarmizi)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku – suku supaya kamu saling kenal – mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakawa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jadi, karena pria dan wanita adalah saudara kandung (bukan tiri) jadi yang akur ya… Jangan berantem lagi. Kita harus berbaikan. Oke, sekarang mari baikaaaan….! Mari buat sebuah tatanan masyarakat yang saling sinergi dengan membiarkan kita berbeda,  karena perbedaan itu rahmat, karena perbedaan membuat hidup menjadi lebih berwarna! ^_^

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi lelaki ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan)  dan bagi wanita juga adabagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bermohonlah kepada Allah dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. An-Nisa : 32)

Salam sayang untuk semua…

Lihat Ini Juga!

Pemahaman Yang Salah (Muslimah Dan Emansipasi Part 1)

Pandangan Islam Terhadap Wanita (Muslimah Dan Emansipasi Part 2)

Perhiasan Terindah (Muslimah Dan Emansipasi Part 4)

Jejak Muslimah Rabbaniah (Muslimah Dan Emansipasi Part 5)

Pandangan Islam Terhadap Wanita (Muslimah Dan Emansipasi Part 2)


Bismillahirahmanirrahiim…

Sahabat, bagaimana kabarmu? Apakah engkau telah setuju denganku bahwa kau sebenarnya tidak lagi membutuhkan emansipasi yang dikoar – koarkan oleh orang barat saat kau telah merengkuh hidayah islam. Saat kau merasa mulia karena Allah adalah Tuhanmu. Saat kau merasa bangga karena Muhammad SAW adalah nabimu?

Sahabat, aku sudah menjelaskan kepadamu bagimana islam sangat memuliakan kita. Dan dalam artikel sebelumnya pun dengan semangat menggelora aku sudah berusaha menepis syubhat bahwa islam agama kaum laki – laki. Yah, tentunya sebatas kemampuanku sebagai seorang remaja muslimah yang masih merangkak dewasa.

Meskipun mereka menganggapku anak kecil yang sedang mengeak-ngeak, tetapi aku yakin Allah mendengarku. Setidaknya meskipun pembelaaanku atas islam hanya seperti seekor semut mungil yang sedang berteriak – teriak di tengah – tengah kerumunan manusia yang sibuk, aku sudah cukup senang. Demi tegaknya Kalimat Allah yang tinggi, islam, aku akan berjuang. Meskipun futur juga sering melandaku, sih. Tetapi, aku tahu, Allah menyayangiku dan menyayangimu. ^_^

Wanita dalam Paradigma

Sobat tahu tidak, jika kita membaca beberapa kitab suci agama – agama non-islam, kita akan melihat bahwa pandangan mereka terhadap hawa sangatlah buruk. Mereka memandang wanita bukan dari golongan manusia. Hawa diposisikan lebih rendah daripada laki – laki. Hawa dianggap sebagai penyebab Adam bermaksiat dan penyebab utama Adam dijatuhkan ke muka bumi. Mereka bilang Adam dijatuhkan ke muka bumi karena bujukan hawa untuk memakan buah dari pohon yang dilarang.

Al-qur’an tidak pernah menyatakan hal tersebut. Al-Qur’an memposisikan laki – laki dan perempuan dalam derajat dan tanggung jawab yang sama. Yuk simak ayat berikut, sobat!

“Setan membisikan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tersembunyi dari keduanya, yaitu aurat keduanya. Setan berkata “Tuhan tidak melarang kalian berdua dari pohon ini kecuali agar kalian berdua tidak menjadi malaikat dan menjadi kekal” (QS Al – A’rad : 20)

Sobat, ayat diatas justru menjelaskan bahwa iblis memperdaya kedua Nenek dan Kakek kita. Tidak hanya hawa, tetapi keduanya. Ini berarti mereka memiliki tanggung jawab yang dipikul bersama. Ini berarti bukan kesalahan Hawa semata, tetapi kesalahan kedua – duanya. Keduanya memakan buah dari pohon itu sehingga mereka diturunkan ke bumi (karena kedurhakaannya). Dari sini jelaslah sudah bahwa islam tidak memihak pada salah satu umatnya saja, tetapi kedua – duanya. Jadi, anggapan bahwa wanita adalah pembawa bencana tak sepenuhnya benar dan tak sepenuhnya salah. Semua tergantung dari pribadi masing – masing.

Orang barat memandang wanita sebagai sosok yang begitu didewakan. Mereka memuja wanita dengan sangat berlebihan. Mereka memuja wanita sampai pada titik terendah kehinaan. Alih – alih memuliakan mereka, justru wanita adalah objek pemuas nafsu setan mereka.

Bagi mereka, wanita tak lebih dari penyampai hasrat yang terpendam. Mereka membujuk para wanita untuk melepaskan rasa malu sebagai mahkotanya. Selanjutnya merayu mereka untuk tidak mengenal apa itu kesucian. Akhirnya di negara – negara barat wanita yang sudah tak suci lagi adalah hal yang wajar, na’uzubillahiminzalik.

Lain lagi dengan orang timur yang menganggap wanita adalah aib masyarakat. Mereka merendahkan derajatnya. Mengaggap wanita pembawa bencana yang harus dimusnahkan.

Kita tahu, pada masa lampau sebelum kedatangan islam, wanita tidak mengenal kata “hak”. Sejak mereka keluar dari rahim, hingga akhir masa hidupnya, mereka membawa cerita duka. Dalam masa peradaban tinggi sekalipun yang dilakukan oleh kaum laki – laki, wanita tidak lebih sebagai benda mati yang tidak berharga. Tengok saja sejarah bangsa – bangsa besar yang menguasai sebagian besar wilayah bumi, bangsa Yunani, Romawi, Mesir Kuno, dan tak terkecuali bangsa arab.

Hal itu terekam dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 58 dan 59 ” Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang ramai disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia aka memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup – hidup), ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”

Sahabat, Islam tidaklah terlalu mendewakan atau merendahkan wanita. Islam justru memuliakan wanita dengan menjaga kehormatannya serta harga dirinya. Nabi Muhammad SAW, mengembalikan kedudukan dan menjadikan wanita sebagai rekan yang memiliki kedudukan yang sama, sejajar, dengan kaum laki – laki dalam hal pahala, siksa dan hak.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki – laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”

Selain ayat diatas, banyak kebijakan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW untuk mengangkat derajat kaum wanita, sebagaiman dalam hadisnya “Yang paling baik di antara manusia adalah yang terbaik sikap dan perilakunya terhadap wanita.”

Setelah kedatangan islam, harkat, derajat dan martabat kaum wanita mulai terangkat dan termuliakan. Diskriminasi yang selama ini menjadi awan kelabu bagi wanita mulai sirna dan memancarkan secercah sinar kejayaan.

Nah, sahabat, berikut ini adalah pandangan islam terhadap kaum perempuan serta perannya dalam kehidupan.

Wanita adalah Sumber Ketenangan

Sobat, Baginda Nabi Muhammad Saw bercerita kepada kita, ketika Adam berada di surga dengan segala kenikmatan yang dimilikinya : Kasur empuk yang nyaman, istana – istana megah, sungai – sungai yang mengalir, serta taman – taman yang indah, ia justru merasa kesepian. Ia merasa ada yang kurang dari dirinya. Adam butuh kehadiran hawa. Yups! Bahkan di surga yang begitu indah pun Adam butuh kehadiran seorang wanita.

Hey! Ini bukan bualan belaka, sobat! Sudah ku katakan, bahwa Rasullulahlah yang telah menceritakannya pada kita. Iya, dalam hadisnya!

Oke, mari kita lanjutkan kisah romantis Kakek Nenek kita!

Nah, Saat Adam a.s sedang tertidur pulas, Allah Swt. Menciptakan hawa dari tulang rusuknya. Kemudian, ia terbangun dan melihat hawa telah berada di sampingnya. Ia bertanya, “Siapakah kamu?”

“Seorang perempuan,” jawabnya.

Adam a.s kembali bertanya  “Siapa Namamu?”

“Hawa.”

“Mengapa kamu diciptakan?”

“Agar engkau merasa tentram bersamaku.”

Ehmm… Sahabat, perhatikan bagaimana Nenek Moyang kita, Hawa, menjawabnya.  Nah, pengarang Buku Pintar Akhlak, Amr Khaled menjelaskan, yang dimaksud dengan perkataan hawa adalah sebagai berikut,  “Wahai Adam dan Anak Turun Adam yang tinggal di bumi hingga Hari Kiamat, engkau tidak akan merasa tenang dan tentram kecuali berada di samping Hawa.”

Sahabat, itulah yang diajarkan islam tentang cinta kasih. Tetapi, ini bukan berarti Wanita adalah segalanya, Allah bisa saja menghapuskan rasa cinta pada diri Adam terhadap Hawa, tetapi Allah justru ingin membuktikan pada kita bahwa wanita ternyata diciptakan sebagai sumber ketenangan.

Nah… Nah… Jika wanita pada dasarnya diciptakan sebagai sumber ketenangan, tentunya akan lari dari fitrah (asal mula penciptaan) wanita jika wanita berkoar – koar meminta persamaan segala – galanya dengan laki – laki. Dunia ini akan stress, sahabat! Jika seandainya wanita dan laki – laki sama, lantas siapakah yang akan memberikan ketenangan? Bencong? Hah?!

Wanita Ditugaskan Menebar Cinta

Tahukah sahabat bahwa diantara bentuk kasih sayang Allah terhadap Umat manusia adalah diciptakannya wanita? Yups! Dia menciptakan wanita untuk mendatangkan rasa cinta ke bumi. Seandainya wanita tidak ada, bumi akan kosong dengan rasa cinta.

Bahkan, dengan izin Allah Agama Islam pun muncul karena rasa cinta dan percaya seorang wanita terhadap seorang pria. Orang yang pertama kali mengimani Sang Rasul saat jaman jahiliyah membahana  adalah wanita. Dia adalah ibunda kita, Khadijah Ra.  Seorang wanita dengan sisi kelembutan dan rasa cintanya meneguhkan hati seorang Pria terhadap sebuah kebenaran yang hakiki, Islam.

Tanpa penerimaan langsung Khadijah akan penglihatan suaminya, Nabi Muhammad Saw mungkin saja akan menganggap pengalamannya di Gunung Hira tak lebih dari mimpi atau sebuah khayalan (tentunya atas izin Allah hal itu tidaklah terjadi). Kita mengetahui bahwa Nabi kita begitu kaget dengan peristiwa pertama kalinya beliau mendapat wahyu. Sebuah pengalaman spiritual yang menabjubkan. Lalu, dengan kelembutan dan rasa cintanya, Khadijah pun menyelimuti Rasullulah dan menenangkannya.

Kau tahu sobat, betapa rasa cinta Khadijah Ra. begitu membekas dihati Nabi kita, hingga seorang sahabat wanita bertanya kepada Rasullulah, “Wahai Rasullulah, apakah engkau tidak mau menikah lagi? Engkau mempunyai tujuh tanggungan dan dakwah agung yang harus kau pikul. Bukankah pernikahan merupakan hal penting bagi setiap pria?”

Nabi Saw. justru menangis dan berkata, “Apakah ada permpuan lain selain Khadijah?”

Sungguh Rasullulah tidak pernah melupakan Khadijah Ra, meskipun empat belas tahun sesudah kematiannya. Karena kecemburuannya kepada Khadijah, Aisyah istri termuda dan tercinta Rasul pun berkata “Apakah engkau tetap mengenang wanita tua itu padahal ia telah meninggal dunia dan Allah telah menggantikanmu dengan yang lebih baik daripadanya?”

Nabi Saw menjawab, “Demi Allah. Allah tidak pernah menggantikan untukku orang yang lebih baik daripadanya. Ia telah menolongku ketika semua mengusirku. Ia mempercayaiku ketika manusia mendustakanku!”

Sayyidah Aisyah Ra. merasa Nabi Saw Telah murka, maka ia langsung berujar “Mintakan ampunan untukku, wahai Rasullulah.”

Beliau menjawab, “Mintakanlah ampunan untuk Khadijah agar aku dapat memintakan ampunan untukmu.” (HR Al-Bukhari)

Subhanallah… Betapa cinta Khadijah Ra. Begitu membekas di hati Rasullulah. Itulah kisah cinta yang bersemi indah. Cinta seorang wanita yang tulus kepada Allah dan Rasulnya hingga tak ada seorang pun yang dapat menggantikannya di hati Sang Rasul pilihan.

Sahabat, sebagai muslimah sudah selayaknya kita menebar cinta kasih di bumi Allah ini. Bukan sebaliknya, sobat. Bukan bencana! Karena meskipun begitu, kita juga harus waspada karena Rasullulah Saw bersabda,“Tidaklah aku meninggalkan suatu fitnah setelahku yang lebih dahsyat bagi kaum laki-laki melebihi fitnah wanita” (HR. Bukhory dan Muslim)

Jika wanita sudah menyibakkan keindahannya, maka saat itu ia telah menjadi murahan. Bukan lagi perhiasan yang mahal. Bukan lagi mutiara yang indah. Tetapi, jika ia bertaubat dengan itu semua, Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat.

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada hasrat yang diingini, yaitu wanita – wanita, anak – anak, harta yang banyak sari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan), binatang – binatang ternak (piaran), dan sawah ladang (tanaman), itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allalah tempat kembali yang baik (surga).”

Wanita Diciptakan Dari sesuatu Yang Hidup

Rasullulah SAW bersabda, “Nasihatilah wanita dengan cara yang baik. Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian atasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasehatilah wanita dengan cara yang baik.”

Maha Suci Allah yang telah menganugrahkan Rasul kita memiliki tutur kata yang padat namun kaya akan makna. Sahabat, tidakkah kita melihat bahwa Rasullulah adalah orang yang ternyata sangat mengerti wanita luar dalam? Bukankah orang -orang yang menggali tentang keajaiban dunia yang kedelapan ini (menurut mereka) selama bertahun-tahun masih sulit memahami wanita (Setidaknya itu yang aku baca dalam sinopsis buku mereka). Tetapi, lihatlah dengan perkataan Rasullulah yang padat namun indah sudah dapat melukiskan bagaimana wanita itu sesungguhnya.

Anna Mariana, dalam bukunya Ketika Allah SWT Lebih menyayangi wanita, menjelaskan  secara filosofi, tulang rusuk (iga) itu sendiri adalah sebuah tulang yang fungsinya sebagai pelindung organ tubuh, yaitu jantung (pusat kehidupan), hati (menyaring sari poti makanan dan racun yang diserap tubuh), paru – paru (napas kehidupan) manusia. Tulang dalam tubuh mirip kerangka baja yang sangat kuat. Banyak para ahli meniru kerangka untuk membangun gedung – gedung pencakar langit. Meski ringan, tulang mampu menjadi penghalang ketika ada yang hendak merusak organ vital kehidupan tersebut.

Mengapa wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok?

Justru karena bentuknya yang bengkok itulah, keberadaan wanita memberi kelapangan, tidak mempersempit dada di manapun ia berada.

Tetapi dalam arti harfiah, kebengkokan itu harus diluruskan. Karena memang kita akui wanita mudah sekali terbawa oleh perasaanya, sehingga kaum pria harus sesekali melurushkannya dengan logika dan fakta.

Sahabat, wanita diciptakan dari sesuatu yang hidup, yaitu tulang rusuk. Sementara pria diciptakan oleh Allah dari tanah (benda mati). Oleh sebab itulah nenek moyang kita disebut hawa yang berasal dari kata hayya (kehidupan). Karena itu, wanita secara alamiah berinteraksi dengan kehidupan itu sendiri. Ia berinteraksi dengan ruh, manusia. Ia-lah yang mendidik, menjadi ibu, saudara perempuan, istri, atau anak peremuan.

Jadi berbahagialah menjadi wanita karena ia adalah kehidupan! So, masih ingin menjadi seperti laki – laki???

Bersambung, Insya Allah.

Lanjutan —>

Peran Penting Muslimah (Muslimah Dan Emansipasi Part 3)

Lihat Ini Juga —>

Pemahaman Yang Salah (Muslimah Dan Emansipasi Part 1)

Perhiasan Terindah (Muslimah Dan Emansipasi Part 4)

Jejak Muslimah Rabbaniyah (Muslimah Dan Emansipasi Part 5)

 

Pemahaman Yang Salah (Muslimah Dan Emansipasi Part 1)


Bismillahirahmnirahiim….

Sobat, aku mengerti. Ada banyak saudari – saudari kita yang sebenarnya butuh sekali nasehat dari saudarinya. Hanya saja kau melihat setan menutupi kalbunya yang halus. Padahal kau tahu, mereka mungkin saja menjerit. Hatinya menjerit, sesak karena setan memaksa segalanya yang buruk menjadi indah. Sejujurnya hati tak ingin itu. Ia ingin keluar (kau tahu bahwa hati pada dasarnya adalah suci tentu saja ia tidak menerima yang rusak!). Hanya saja ia tidak tahu bagaimana caranya. Begitulah…

Dan kau tahu, sobat, serangan yang diluncurkan iblis untuk menutupi hatinya yang lembut dan sensitif seperti gelas – gelas kristal adalah tentang Emansipasi di dalam islam. Seolah kata – kata itu membuatnya merasa bahwa islam tidaklah menghargai perempuan.

Awalnya teori emansipasi itu biasa – biasa saja, ku pikir. Bahwa wanita dan laki – laki memiliki persamaan derajat di hadapan tuhan. Bahwa wanita dan laki – laki itu memiliki kesempatan yang sama untuk mereguh manisnya iman.

Tetapi belakangan – belakangan ini teori emasnipasi itu makin nyeleneh, sobat! Mereka menodai kehormatan agam Islam yang lurus dengan mengatakan bahwa islam adalah agama kaum laki – laki. Bahwa islam itu tidak adil terhadap perempuan. Sungguh mereka lancang sekali!

Emansipasi merupakan Produk Komunis

Sejenak mari kita mengenongk pada sejarah yang menyimpan banyak fakta mengenai kebaikan atau kebiadaban manusia – manusia yang menumpang di bumi Allah Swt. Aku sempat bertanya – tanya dalam hati, darimanakah emansipasi itu hadir? Siapa yang mencetuskannya? Adakah konsipirasi dibalik itu semua? Atau apakah itu adalah sebuah perang psikologis dan sebuah invasi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh – musuh islam?

Dalam bukunya, yang berjudul Membiarkan Berbeda? (1999), pakar Ilmu Gizi IPB, Dr. Ratna Megawangi, menyebutkan, ide Kesetaraan Gender bersumber paham Marxis, yang menempatkan perempuan sebagai kelas tertindas dan laki – laki sebagai kelas penindas. Intitusi keluarga yang mendiskirmininasikan perempuan harus dihilangkan atau diperkecil perannya apabila masyarakat komunis ingin ditegakkan, yaitu masyarakat yang tidak ada kaya-miskin, dan tiada ada perbedaan antara laki- laki dan perempuan. (Sumber : Majalah Intisari Hasmi, Penulis Habibullah, Lc)

Dari pernyataan diatas saja kita sudah dapat menyimpulkan bahwa,

1) Paham emansipasi merupakan produk Non-Islam (kafir) tentunya tidak berdasarkan sumber kebenaran yang hakiki (Al-qur’an dan hadis) melainkan hawa nafsu belaka.

2) Disebutkan bahwa wanita sebagai kaum tertindas dan laki-laki penindas. Dalam islam ini tidaklah terjadi. Dan tidak mungkin terjadi. Karena  sesungguhnya, di muka bumi ini, tidak ada agama yang sangat memperhatikan dan mengangkat martabat kaum wanita selain islam.

3) Pemikiran kaum komunis sangat tidak sejalan dengan sunnatullah. Bagaimana mungkin tidak ada kaya – miskin dalam masyarakat? Bukankah perbedaan itu justru adalah rahmat. Agar kita slaing melengkapi, sebagian membutuhkan yang lain. Inginkah kita seperti amuba yang serba sama bentuk, tugas, dan keinginannya? Oh! Betapa tidak dinamisnya dunia ini jika itu terjadi.

Bagaimana Islam Memuliakan Wanita??

Bagimana islam memuliakan wanita sementara islam menyuruh wanita untuk berdiam diri di rumah dan terkukung dengan hijab?! Mewajibakan wanita taat pada suami kenapa suami tidak perlu taat kepada istri memangnya siapa dia?! Mengapa islam hanya menerima persaksian dua orang wanita sementara laki – laki hanya satu?! Hak waris wanita juga hanya separuh dari hak waris laki – laki?! Dan yang lebih parah apakah islam tidak menghargai perasaan wanita yang sensitif sehingga membolehkan poligami?!!!!

Itulah pertanyaan – pertanyaan yang mereka lontarkan. Tentunya dengan semangat menggebu – gebu seolah mendemo menuntut harga minyak diturunkan. Ya! Seolah itu adalah persoalan sepele yang pantas diberantas! Ha! Sepele?!!!

Seolah dengan pertanyaan – pertanyaan seperti itu mereka memperjuangkan hak – hak wanita muslimah. Seolah mereka adalah pahlawan yang datang membawan kemuliaan terhadap muslimah.  Seolah – olah mereka lebih adil daripada Tuhan Semesta Alam!!!

Hahaha! Aku saja seorang remaja yang masih minimnya ilmu mengetahui bahwa mereka sebenarnya berkoar – koar tak jelas! Apakah seorang anak kecil seperti diriku harus menceramahi mereka, yang notabene adalah orang dewasa? Hah…  Seharusnya mereka malu, malu dengan kegeniusan yang mereka buat – buat itu!

Hay! Orang yang mengaku memperjuangkan hak – hak wanita islam! Kami tidak butuh ocehanmu! Betapa menyebalkannya dirimu. Kau katakan bahwa islam adalah agama kaum laki – laki. Aku benci dengan gaungan anehmu itu! Betapa kau tidak memikirkan perasaan kami, wanita islam! Kau bilang kau pejuang wanita, tapi ternyata kaulah yang mencabik – cabik kehormatan kami dengan konspirasimu itu.

Tidakkah kau tahu bahwa, kasih sayang Tuhan mengharuskan tercapainya manfaat dan tertolaknya bahaya. Namun kadangkala kita tidak bisa mengatahui mana yang manfaat dan mana yang bahaya. Bisa jadi tercapainya manfaat tersebut bagimu tidak wajar. Engkau tidak menyukainya! Seperti seorang anak yang menolak meminum obat yang pahit. Jangkauan akalnya masih pendek, Ia tidak mengetahui bahwa rasa pahit yang ada terdapat di obat itu mengandung kesembuhan, akan tetapi ayahnya tetap meminumkan obat itu. Si anak menatap ayahnya dengan tajam dan mulutnya seolah – olah berkata, “Mengapa engkau menyiksaku?!!”

Aku tidak habis pikir mengapa orang dewasa itu berpikiran rumit. Mengapa ia tidak berpikiran sederhana? Dan kau tahu, wahai orang dewasa yang mencemarkan nama baik islam karena teori emansipasimu itu, sungguh tuduhan yang kalian tuduhkan kepada kami, umat islam hanya akan kembali kepadamu. Semoga Allah tidak membutakan matamu dan menulikan telingamu!

Jadi, apakah aku harus menunjukan kepada mereka bahwa ucapan – ucapan mereka itu salah? Tidak! Itu tidak penting. Biarkan anjing mengogong, biarkan kucing mengeong. Aku tidak mau berdebat dengan mereka. Aku hanya ingin mengajakmu, saudariku, sahabatku, untuk mendengarkanku. Bukan mereka! Mendengarkan seorang remaja yang rasa ghirohnya terhadap islam tengah menggelora.

Aku sekarang berkata padamu, sahabatku. Bahwa kita tidaklah terkukung dengan hijab dan berdiam di rumah. Justru hijablah yang memberikan kita KEBEBASAN! Dengungkan kata itu, sahabat! Kebebasan! Bebas tanpa dimata – matai oleh lelaki idung belang. Mata – mata yang tak pantas melihat kita, melihat keindahan kita. Kita bebas dari terkaman khayalan – khayalan buas mereka yang MENJIJIKKAN! Kita bebas, bebas dari srigala berbulu domba itu.

Dengan hijab kita bebas dari perdagangan wanita! Kita terbebas dari  perdagangan wanita yang seolah – olah  sebagai komuditas barang yang di perdagangkan di iklan – iklan televisi. Kami memiliki harga. Dan kalian tak akan mampu membeli kami dengan rupiah! Dan kita bebas, beas mereguh manisnya iman dan menjadi mulia dengan mengenakan mahkota rasa malu.

Tentang taat pada suami. Aku memang belum berpengalaman tentang itu. Hanya saja, aku belajar dari pengalaman mereka yang menyayangiku. Aku melihat seorang ayah bekerja banting tulang untukku. Melihat betapa ayah menginginkan agar aku tumbuh dewasa. Menginginkan agar keluarganya selamat dari api neraka. Ayah… Dialah pemimpin kami di rumah. Jika saja ibu tidak menaatinya dan menghargainya, jika saja di rumah ayah dan ibu selalu bertengkar memperebutkan kepemimpinan. Bagaimana dengan nasibku?

Sahabat, kita sepakat, saat kita melihat ibu mengalah untuk ayah. Bukankah kita melihat bahwa justru ibu menjadi mulia melakukan itu? Bukankah kita melihat bahwa ibu begitu tegar dan dewasa? Apakah terbesit di benak kita saat ibu menghargai dan mengalah untuk ayah yang telah menghidupi kami bahwa ibu lemah dan hina? Tidak! Justru itu kebalikannya, bukan?

Persaksian? Hah! Mengapa mereka mempermasalahkan hal itu? Ini sungguh bukan masalah besar untuk diperdebatkan. Mengapa mereka senang sekali memperbesarkan masalah. Apa salahnya jika wanita harus memiliki teman untuk menemaninya bersaksi. Bukankah itu justru membantunya jika ia lupa? Bukankah itu membuat kemungkinan terjadi kesaksian palsu lebih sedikit? Bagimana dengan laki – laki yang hanya satu saja? Dia bisa saja lupa, bukan?

Sahabat, tidak selamanya persaksian wanita harus dua. Di dalam buku Keajaiban Firasat karya Ibnul Qayyim pun jika seorang ibu bersaksi bahwa ia menyusui dua orang anak yang ternyata mereka berdua menikah, langsung diterima oleh rasul. Rasul pun menyuruh mereka bercerai, karena saudara sepersusuan itu tidak boleh menikah. Haduh! Mengapa pikiran mereka begitu sempit?

Sekarang tentang Hak Waris. Mengapa laki – laki harus lebih banyak? Karena dia punya tanggung jawab keluarga! Mereka harus memberi makan ibu kita, kakak kita, adik kita, dan kita sendiri. Sementara wanita? Dia mendapat setengah full! Tanpa dibagikan kepada siapapun. Jadi, yang kaya akan waris sekarang siapa? Laki – laki atau perempuan?!

Ohh… Tentang poligami! Justru karena islam begitu mengerti bahwa wanita memiliki perasaan senstif maka islam membolehkan poligami. Bayangkan wanita yang miskin, sendirian, dan tidak punya keluarga. Betapa malangnya ia! Betapa rapuhnya perasaannya. Lalu, apakah wanita harus egois sedemikian rupa sehingga tidak mengizinkan suaminya berbagi hati dengan wanita malang itu? Hah… Islam adalah agama kasih sayang.

Sahabat, masih banyak lagi penghargaan yang Allah SWT berikan kepada kaum wanita yang tidak akan habis dituliskan dalam puluhan bahkan ratusan halaman yang menjadi bukti akan kemuliaan dan tingginya martabat wanita dalam islam.

Perlukah Emansipasi bagi Muslimah? Ridfa rasa tidak! Dengan relanya kita merengkuh hidayah islam, berada di atas kalimat ikhklas,  agama muhammad SAW dan millah ibrahim, aku rasa menjadi mulia dengan syariat islam sudah cukup. Aku yakin kau sudah mengerti mengapa kita disebut muslim? Karena kita adalah umat yang berserah diri kepada tuhan yang Maha Esa. Kita adalah milik tuhan. Dan Allah adalah Rabb yang maha adil. Allah menurut prasangka hambanya, sobat!

Perlukah kita sama dengan pria? Segala – galanya? Oh! Kita begitu berbeda, sahabat. Kita diciptakan untuk menebar cinta, sumber ketenangan, dan kehidupan. Saat kita menjadi ibu kita akan sangat dimuliakan 3 kali dari ayah. Saat kita menjadi anak perempuan kitalah yang akan membawa orang tua kita menuju surga jika mereka memperlakukan kita dengan baik!  Bagimana mungkin kita ingin seperti laki – laki? Sementara menjadi wanita muslimah merupakan sebuah kehormatan.

Aku rasa itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak butuh emansipasi yang didengung – dengungkan oleh orang – orang barat. Karena justru emansipasi mereka itu merendahkan martabat dan harga diri kita! Karena islam begitu memuliakan dan mengakat harkat dan martabat wanita. Bergermbiralah wahai muslimah, sahabatku, saudariku! Mari kita lihat apa yang islam berikan untuk muslimah.

Jadi… Biarkan anjing mengongong biarkan Kucing mengeong dan biarkan mereka berkoar sampai lelah. Katakan saja, I’am Proud To Be muslimah and I don’t Need Emancipation

Bersambung, Insya Allah… :)

Lanjutan —>

Pandangan Islam Terhadap Wanita (Muslimah Dan Emansipasi Part 2)
Peran Penting Muslimah (Muslimah Dan Emansipasi Part 3)

 

Perhiasan Terindah (Muslimah Dan Emansipasi Part 4)

 

Jejak Muslimah Rabbaniyah (Muslimah Dan Emansipasi Part 5)

%d bloggers like this: