Ini Dia Cemburu Menuai Pahala Bagian 2


Malu Mahkota Akhlak TerindahKita masih berbicara tentang cemburu dalam buku Al-ghiiroh ‘inda Annisa karya Khaulah Darwis. Masih dengan suanasa pagi di Lembang yang dingin. Masih dengan laptop kakakku. Dan tidak untuk kicauan burung. Setidaknya dugaanku benar tentang kicauan burung berisik yang seolah – olah menyuruhku mengabarkan informasi ini kepadamu, sekarang kicauannya hilang. Mungkin telah melalang buana ke belahan sudut rumah lain di kota Lembang.

Sobat, sekarang kita akan membahas tentang cemburu yang membuahkan pahala. Kecemburuan yang terpuji adalah sebagaimana yang diungkapkan Ibnul Qayyim dalam kitabnya Tadhzib Madarijis Salikin, yaitu kecemburuan seseorang demi Rabbnya,

“Sementara cemburu seorang demi Rabbnya ada dua macam juga : cemburu yang bersumber dari dirinya sendiri dan cemburu yang muncul dari orang lain. Cemburu yang bersumber dari dirinya sendiri yaitu tidak menjadikan sedikitpun dari amalnya, perkataannya, waktunya, dan jiwanya, untuk selain Allah. Sedangkan cemburu dari orang lain yaitu merasa benci jika ada yang melanggar hal – hal yang diharamkanNya dan melecehkan hak – hakNya.

Secara keseluruhan islam memotivasi ummatnya untuk mengorbarkan kedua macam cemburu itu dan mendorong mereka untuk mengingkari kemungkaran. Dengan inilah para Rasul diutus dan kitab – kitab suci diturunkan.”

Jadi rumusnya, tidak semua rasa cemburu itu jelek. Adakalanya cemburu dapat melindungi harta, serta kehormatannya dan islam.

Bagaimana Rasa Cemburu Bekerja?

Rasa cemburu akan membakar hati jika kehormatan islam ternodai. Hatinya begitu sakit ketika mendengar rayuan gombal musuh – musuh islam kepada muslimin yang lemah agar menjauh dari agamanya dengan menyodorkan teori busuk kebebasan! Hatinya tidak akan pernah tenang jika mendengar hak – hak kaum Muslimin dirampas, diusir dari negeri mereka, dan anak – anak mereka dibunuh. Air mata terus berlinang hingga ia mendengar mereka mendapatkan keadilan dan hak – hak mereka dikembalikan. Dengan cemburu yang membara ini ia membantu mereka meskipun hanya dengan panjatan do’a yang tulus secara diam – diam. Allah Yang Maha Penyayang tidak menyia – nyiakan harapannya.  Sebagaimana kepedulian kita kepada saudara – saudara kita di Palestina dan murkanya kita kepada zionis Israel yang berprilaku biadab. Inilah ghiroh, kecemburan yang terpuji.

Manis, indah, syahdu. Benar! Inilah Rasa cemburu yang diajarkan islam dan terpuji.  Jadi, marilah menjadi pelita yang memandu perasaan cemburu demi islam dan kehormatan!

Dan… Allah Pun Cemburu

Kawan, tahukah kamu tidak ada yang lebih pencemburu melainkan Allah? Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu’anhuma meriwayatkan, suatu saat dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana cemburunya Allah? Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah… nah… Allah cemburu karena Allah sangat menyayangi kita. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa suatu ketika didatangkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serombongan tawanan perang. Ternyata ada seorang perempuan yang ikut dalam rombongan itu. Dia sedang mencari-cari sesuatu -yaitu anaknya, pent-. Setiap kali dia menjumpai bayi di antara rombongan tawanan itu maka dia pun langsung mengambil dan memeluknya ke perutnya dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada kami,“Apakah menurut kalian perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”. Maka kamipun menjawab, “Tentu saja dia tidak akan mau melakukannya, demi Allah. Walaupun dia sanggup, pasti dia tidak mau melemparkan anaknya -ke dalamnya-.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Sungguh, Allah jauh lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dibandingkan -kasih sayang- perempuan ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan biarkan ibadah kita diberikan untuk selain Allah! Awas, Allah sangat pencemburu dan adzabNya sangat pedih. Sungguh, tidak ada yang berhak untuk dipersembahkan segala amal baik kecuali kepada Allah. Karena memang hanya Allah Maha Agung dan Mulia. Hanya Allah yang bisa membalasnya dengan balasan yang luar biasa, jauh dari yang kita bayangkan.

Jangan biarkan diri kita melanggar larangan – larangan Allah. Karena itu berarti kita telah mengabaikan kasih sayang Allah dan perhatian Allah yang besar kepada kita. Cemburulah wahai saudariku muslimah, jika kecantikanmu terlihat dan hijabmu terbuka. Cemburulah jika kehormatan kita sebagai muslimah ternodai. Tutup! Tutup rapat – rapat setiap celah yang mengundang fitnah. Sungguh kita semua bermaksiat kepada Allah. Dan Allah sangat bergembira dengan taubat seorang hamba melebihi orang yang bergembira karena menemukan kembali barang – barang berharganya yang sangat ia butuhkan hilang.

Cemburu! Cemburlah, Kawan! Cemburu jika maksiat maksiat telah menebas hari – hari kita. Sesali waktu yang terlewat dengan taubat dan muhasabah diri. Bangkit dan rasakan api cemburu membara di dada kita untuk islam. Sehingga dengan rasa cemburu ini kita bisa membangun ketaqwaan di diri kita, berjibaku meninggikan syariat islam. Agar kebenaran dan keadilan tegak di bumi Allah.

Cemburulah hingga semangat jihad membara di dada kita. Berjihad dengan kemalasan! Berjihad dengan kebodohan! Berjihad dengan hawa nafsu!  Berjihad demi tegaknya kalimat Allah yang tinggi, Tauhid!

Kawan, Inilah cemburu, cemburu yang menuai segudang pahala…

Semoga Allah menolongku dan menolongmu untuk istiqamah meniti shirothol Mustaqiim hingga akhir hayat. Aamiin…

Dekadensi Moral? I'ttiba pada Rasul Solusinya!

Assuluk Alhadhori, Kepribadian Yang Maju


Kita sekarang masih membahas salah satu tulisan yang terselip di binderku, ceramah guruku tentang Asuluk Alhadhori. Ini dia pembahasannya!

Menurut teorinya Assuluk Alhadhori atau Civil Behavior bisa terjadi ketika seseorang melepaskan dirinya dari nilai – nilai agama. Konsep ini juga disebut dengan sekulerisme, yaitu pemisahan antara pemerintahan dan agama (mungkin bisa juga disebutkan antara kehidupan dan agama). Paham sekulerisme jika kita lihat dari arti yang umum tidak hanya merambah di kehidupan berhukum di negara kita. Kita bisa mendapati seorang muslimah menggunakan jilbab besar hanya ketika ingin sholat. Prilaku ini juga menunjukkan pelakunya telah memisahkan agama dari kehidupannya.

Ketika itu guruku berkata, “Benar, untuk mencapai kepribadian yang maju seseorang diharuskan untuk melepaskan diri dari nilai – nilai agama. Ya, agama kebatilan, agama selain islam. Karena agama yang telah diselewengkan itu tidak logis lagi. Sebaliknya jika umat islam keluar dari agamanya justru akan mengalami kemunduran. Jadi, analogi ini sebenarnya bagi umat muslim tidaklah tepat.” Kira – kira begitulah guruku menjelaskan.

Umat muslim jika ingin kembali meraih kejajayaannya harus kembali kepada agamanya. Jelas bukan dengan mengekor kaum kuffar. Orang – orang non muslim memang sangat wajar harus keluar dari agamanya jika dia ingin memiliki pribadi yang maju. Biarkan saja mereka mencela agama mereka sendiri yang (kata mereka) tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan. Kita memiliki jati diri yang kuat. Umat islam memiliki pondasi yang kokoh. Orang yang memiliki akal sehat tidak akan mungkin bertentangan dengan wahyu. Karena wahyu datang murni dari Allah, pencipta akal manusia. Dan tentu Allahlah yang paling mengetahui tentang ciptaanNya.

Islam mengajarkan kita memiliki akhlak yang mulia. Karena memang itulah tujuan rasululah shalallahu ‘alaihi wasalam diutus, menyempurnakan akhlak yang mulia. Dan menyembah Allah semata, inilah tujuan manusia diciptakan. Konsep islam yang sangat indah ini dilihat dari motor penggeraknya, aqidah. Inilah yang dimaksud dengan pribadi yang maju. Keyakinan yang kuat dan benar akan menggerakan semua aktifitas positif. Pada akhirnya peradabaan yang didambakan akan terwujud. Lalu, kapankah masa keemasan islam itu?

Abad keemasalan islam sesungguhnya muncul pada zaman nabi, sahabat, dan tabi’in. Sebagaimana yang disabdakan nabi kepada kita, “Sebaik baik zaman adalah zamanku, kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” Standar hebatnya peradabaan islam saat itu adalah kekuatan syariat – syariat islam meninggi.

Inilah zaman dimana umat islam menyandang keyajaan, heroism (kepahlawanan), dan keunggulan yang tidak sebanding dengan sejarah satu umat pun. Generasi emas ini gigih di jalan dakwah untuk menyebarkan agama yang lurus sebagai manifestasi agama Ibrahim ‘alaihi salam. Pengorbanan sahabat dalam berhijrah sampai rela meninggalkan keluarga dan kampung halaman tidak bisa diremehkan begitu saja. Begitu pula jihad yang mereka tegakkan dengan segenap harta dan jiwa serta pembelaan mereka terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.  Maka jadilah masa – masa ini sebagai Golden Age dalam artian yang sesungguhnya.

Sungguh! Sejarah umat islam di zaman ini sangat patut untuk dijadikan pedoman dalam hidup. Ingat, kita bukanlah umat yang memiliki sejarah yang kelabu. Para pendahulu kita telah menyisakan banyak biografi indah untuk diikuti. Semoga Allah memantu kita menjadi generasi khalaf (terakhir) terbaik yang mewaris generasi salaf (terdahulu) terbaik. Aamiin…

Nah, setidaknya itu yang aku tangkap dari ceramah guruku di sekolah waktu itu. Ada hal lain yang beliau sampaikan ketika itu, yaitu tentang pendidikan berbasis logika. Disana ada istilah materialisme dan immaterialisme. Insya Allah kita akan membahasnya nanti. Sampai disini dulu ya, Sobat! Semoga bermanfaat.

463477_1389388585

Konsep Mu’tazilah Mematikan Fungsi Akal


Terselip lembaran – lembaran bukuku, aku menemui sebuah tulisan bagus yang sempat disampaikan oleh guruku di sekolahku. Saat itu beliau sedang bercerita tentang Suluk Hadhori, Perilaku Pribadi yang Maju atau dalam bahasa inggrisnya Civil Behavior.  Ada sebuah perbedaan opini tentang bagaimana prilaku pribadi yang maju dan dimanakah islam mencapai puncak kepribadian yang maju. Guruku menjelaskannya dengan gaya bahasa yang ilmiah. Aku mencoba menjelaskannya kembali kepadamu. Semoga bermanfaat.

Pada abad ke 2 hijriyah Daulah Abbasiyyah berkuasa dan pemikiran mu’tazilah mulai berkembang. Pada zaman ini pula digalakan penerjemahan buku – buku filsafat yunani yang didalamnya terdapat pemikiran mu’tazilah. Pemikiran ini menggunakan konsep akal sebagai penentu kebenaran. Jadi, apapun yang orang – orang pikir secara akal tidak dapat dicerna maka ditolak. Imbasnya, mencari keberadaan Allah pun juga mempergunakan akal. Sebagaimana yang dilakukan oleh para filosof dan mereka pikir ini bijak. Kebijakkan yang membuat mereka tersesat dan terseret ke jahannam karena mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu.

Kita boleh saja menggunakan akal kita untuk mempelajari hal – hal konkret seperti membuat teknologi canggih, tetapi tidak untuk mengetahui keberadaan Allah yang ghaib. Bagaimana mungkin kita mengetahui apa yang ada di balik tembok sementara kita belum pernah melihatnya? Memaksakan akal untuk berpikir apa yang belum pernah kita lihat? Ini akar dari kemustahilan!

Jadi, pemikiran mu’tazilah yang mengagung – agungkan akal sungguh keterlaluan. Bagaimana tidak? Mereka akhirnya mengikuti akal mereka yang okelah mungkin cerdas, tetapi akal manusia itu terbatas. Buktikan saja! Kita tidak akan mampu membaca apa yang ada di balik tembok dengan logika, bukan?

Jika akal sudah tidak dapat mencerna, berarti kita butuh informasi hal yang tidak kita tahu. Allah adalah Tuhan yang mengetahui segala sesuatu. Kita mengenal Allah hanya dengan mendapatkan informasi dari Allah langsung! Bukan menerka – nerka. Karena menerka – nerka tentang Allah adalah kejahatan dan kedzaliman yang sangat besar! Bukannya menganggungkan Allah justru malah membuat Allah murka. Jadi, karena akal kita terbatas kita membutuhkan informasi dari Allah, inilah yang kita sebut sebagai wahyu.

Bagaimana kita bisa mendapatkan wahyu? Ingat, kawan! Wahyu adalah sesuatu yang sangat berharga dan mulia. Dengannya kita bisa mengetahui banyak hakikat kehidupan yang tidak kita ketahui. Karena wahyu begitu mulia maka Allah hanya akan memberikannya kepada orang suci yang pantas mengembannya, yaitu rasulnya. Wahyu yang Allah turunkan untuk generasi kita adalah Al-qur’an kepada nabi kita yang mulia Muhammad Shalallhu ‘alaihi wa salam. Kemudian Allah menjaga wahyu ini hingga sampai kepada kita tanpa perubahan sedikitpun. Subhanallah… Alhamdulilah… Jika saja bukan karena rahmat Allah dan kasih sayang Allah kepada hambaNya, tentu saja kita akan tersesat mencari kebenaran.

Wahyu Sudah Turun, Kesesatan Masih Merajalela

Lantas, mengapa banyak orang yang masih saja tenggelam dalam kesesatan? Hidayah itu ada di sisi Allah. Hanya Allah saja yang tahu hati – hati mana yang pantas dinaungi hidayah dari Allah atau tidak. Oleh sebab itu bersyukurlah kita karena Allah telah menghadiahkan keimanan kepada kita. Barangsiapa yang bersyukur maka Allah akan tambahkan nikmat itu, jika tidak adzab Allah sungguh sangat pedih.

Nah, orang – orang liberalis pengagung akal mengatakan abad kedua ini adalah abad keemasan islam. Karena akal dapat bergerak bebas menembus apa yang seharusnya tidak patut ditembus. Mereka bebas berpikir tanpa memilah. Seolah – olah mereka berjalan di jalanan yang tidak mereka tahu dengan percaya diri, akhirnya mereka tersesat dan menganggap jalan mereka benar. Padahal diujung jalan bisa jadi adalah jurang, tetapi mereka bahagia dan merasa menang. Aneh? Orang berpikir sehat pasti berkata hal ini aneh! Kecuali untuk orang – orang yang telah mempelajari filsafat, karena menurut mereka semakin nyeleneh pemikiran mereka semakin cerdas dan semakin terbimbing. Haha! Mari tertawa.

Hasilnya apa, Kawan? Mereka mengatakan bahwa Al-qur’an adalah makhluk! Sehingga tidak bisa dijadikan tolak ukur kebenaran mutlak. Karena Al-qur’an adalah makhluk bisa saja benar dan bisa saja salah. Semakin giranglah mereka karena akal mereka tidak akan mungkin dikalahkan dengan Al-qur’an. Karena mereka menganggap Al-qur’an adalah makhluk bukan perkataan Allah yang tidak bisa dibantah. Ngaco? Memang! Ini adalah kesesatan mereka. Sesat! Dan merasa bangga dengan kesesatan.

Laa haula wa la quwwata illa billah. Jika akal sudah menjadi penentu kebenaran bagaiamana keadilan dapat tegak? Bagaiaman bumi dapat aman? Orang jahat bisa saja dianggap baik jika mereka bisa memutar balikkan kebenaran. Orang baik akan dilecehkan jika akal orang – orang dungu dijadikan tumpuan.

Tidak ada celah bagi kita kecuali mengikuti Al-qur’an petunjuk bagi manusia dan sunnah nabi Muhammad Shalallhu ‘alaihi wasalam. Pikirkankanlah kedua petunjuk ini dengan akal sehat kita. Disinilah peran besar akal. Inilah yang seharusnya disebut dengan memuliakan akal. Bukan melebih – lebihkan kemampuannya diluar batas. Jadi, konsep mu’tazilah adalah konsep untuk mematikan fungsi akal bukan menghidupkan peran akal.

Bersambung…

Sepucuk Surat Untuk Ulama


Aku membaca sebuah buku tentang kesabaran para ulama. Tulisan itu begitu memukauku. Para ulama mengorbankan jiwanya untuk ilmu. Aku sungguh takjub menengar bahwa ilmu – ilmu islam dibawa oleh daging dan darah para ulama. Ilmu ini sungguh mulia, sehingga Allah pun menjadikan pengembannya mulia.

“Kepada Ulama,  kuingin tulis sebuah surat untukmu berserta do’a untuk kebaikan akhiratmu. Meski aku tahu surat ini tak akan pernah bisa kau baca. Tapi surat ini mungkin cukup untuk menunjukkan kekagumanku padamu. Aku mencintai kalian. Aku sayang kalian. Kalian telah berjuang menegakkan kalimat tauhid. Kalimat yang agung. Kalimat yang memusnahkan semua peyembahan kepada makhluk.

Dengan perantara kalian aku bisa mengenal Rabbku yang Maha Mulia. Aku mengenal Nabiku utusan Allah, manusia paling baik di muka bumi. Aku dulu tidak mengenal mereka. Setelah kubaca tulisan – tulisanmu, meresapi makna dan hikmahnya membuncahlah kecintaanku kepada Rabbku dan Rasulku. Tentu inilah yang membuatku mencintaimu. Kecintaan yang sejati, kecintaan karena Allahu Rabbi. Hingga aku tidak terkukung dengan kebodohan, tidak tertipu dengan syubhat orang – orang picik.

Kepada Ulama Salaf, izinkan aku menyebutmu sebagai Guruku. Terima kasih atas perjuanganmu membela sunnah nabi kita. Engkau pasti bersusah payah membersihkan hadis – hadis nabi dari para pendusta dan para zindiq. Engkau berjalan menyusuri bumi Allah hanya untuk mendapatkan satu hadis. Aku melihat betapa rindunya engkau terhadap nabi kita, Wahai Guruku. Rasulullah Shalallhu ‘alaihi wasalam sudah mendauhuli kita, kita tidak bisa mendengar kalamnya yang sangat fasih tetapi dengan mencari hadisnya yang shahih bisa sedikt meredam kerinduan kepadanya.

Engkau ridha dalam kesulitan hidup, demi sampainya ilmu kepada generasi selanjutnya, aku. Ya, Guruku. Aku generasi selanjutnya juga teman – temanku yang lain di jalan Allah. Aku ingin seperti dirimu. Berjuang untuk tauhid dan sunnah nabi kita. Karena memang tidak ada yang pantas diperjuangkan kecuali keduanya.

Guru- guruku, di lembaran – lembaran kisahmu aku temui bahwa wajahmu memancarkan kerinduan akan akhirat.  Aku ingin sekali bermajelis dengan kalian. Menimba ilmu agama. Mengenal Allah melalui lisan – lisan kalian. Namun aku ini baru saja lahir. Baru saja mencium harum nama kalian. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi ahli bahasa arab agar mengerti apa yang kalian ucapkan tentang Allah dan Rasulku. Hingga semakin memuncaklah kecintaanku kepada keduanya

Wahai para ulama, semoga Allah memberikan tempat terbaik disisiNya untuk kalian. Sekarang ulama mutakaakhirin sedang mencoba menjadi generasi khalaf terbaik yang mewarisi generasi salaf terbaik. Mereka menjadi penghubung antara kalian dan aku. Ilmu – ilmu mereka kemudian disampaikan oleh guru – guruku di sekolah. Sungguh indah Allah menjaga agama ini.  Semoga aku bisa menjadi penerus kalian.

Aku adalah wanita, wahai guru – guruku. Aku adalah wanita yang Allah lahirkan dan Allah beri petunjuk untuk berjalan di atas sunnah. Mungkin aku tidak bisa seperti kalian. Gerakku terbats. Tapi semua takdir Allah adil untukku. Peranku juga banyak! Aku bisa melahirkan banyak ulama – ulama seperti kalian, aku juga bisa berdakwah untuk kaumku sendiri. Saat ini peran – peran wanita itu sungguh sangat besar, wahai guruku. Guru – guruku di sekolah bilang peran wanita begitu signifikan untuk kebangkitan islam. Karena dakwah untuk kaumku sendiri sangat strategis dan tentu tidak ada yang mengerti bahasa wanita kecuali wanita itu sendiri.

Guru – guruku, wanita – wanita kini berpakaian tapi telanjang persis seperti yang disabdakan rasul kita. Aku harus memiliki hikmah dan ilmu agar bisa mengubah kemungkaran dengan tangan dan lisanku. Aku juga harus memperbaiki diriku sendiri. Aku sangat bersyukur kepada Allah karena kalian telah menuliskan banyak risalah tentang tazkiyatunnufus. Sungguh aku ingin meneruskan perjuanganmu, meski hanya sejengkal langkah yang mampu kutempuh.

Kepada Para Ulama, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan surga, menghapus kesalahan – kesalahan kalian, dan merdihoi kalian sebagaimana Allah meridhoi orang – orang sholeh sebelum kalian. Aamiin.”

 

Dari muridmu yang tidak pernah kau temui,

 

 

Ridho Musfha Tukmalahasanah

 

mosque
Gambar

Jangan berdusta, Jiwamu Membutuhkan Islam!


Bismillahirahmanirrahiim…

Islam Agama Fitrah

Islam adalah agama yang paling sesuai dengan kehidupan manusia, itu jelas. Sejarah membuktikan banyak hal tentang merosotnya kejiwaan manusia jika mereka melepaskan diri dari ajaran mulia islam. Mengapa ? Karena islam adalah ajaran murni kreasi Ilahi Rabbi, Allah ta’ala, Rabb pencipta Alam semesta. Islam bukanlah Agama karangan Nabi Muhammad seperti yang dilontarkan oleh mulut lancang kaum orientalis. Bahkan, Allah sudah mewanti – wanti Sang Rasul agar beliau tidak mengutak – atik sedikit saja ajaran islam. Itu termaktub dalam surat Al – Ma’rij ayat 43 – 47

“Ia (Al-Qur’an) Adalah wahyu seluruh alam. Dan sekiranya dia (muhammad) mengada-ngdakan sebagian perkataan atas nama kami, pasti kami pegang ia pada tangan kanannya, kemudian kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi (kami untuk menghukumnya).

Islam adalah way of life. Bahkan lebih dari sekedar jalan hidup. Islam adalah agama fitrah. Artinya,  Allah menciptakan manusia dengan bekal fitrah yang sesuai dengan islam. Sedikit saja ia menyimpang, jiwanya akan meronta – ronta kehausan. Tentu saja, itu dirasakan oleh mereka yang hatinya masih memiliki kehidupan. Jika hati sudah mati, tak ayal lagi ia akan begitu mudah mencintai kemaksiatan. Karena sejatinya, manusia yang sudah mati tak mungkin lagi merasakan sayatan luka.

Lihat saja bangsa romawi yang pada waktu itu adalah negara super power pada abad ke VI masehi, manusia sungguh terpuruk dalam kebinatangan. Tontonan yang paling menyenangakan pada waktu itu adalah pertarungan yang beradarah – darah dan bahkan tidak sedikit nyawa harus dilayangkan. Para gladiator, diadu dengan sesama mereka, atau mereka dipaksa bertarung dengan binatang buas. Suatu pertarungan yang menunjukkan tingkat kejamnya manusia terhadap kemanusiaannya sendiri.

Belum lagi dengan kebiadaban bangsa – bangsa yang jauh dari cahaya islam terhadap kaum perempuan. Entah itu wanita tidak dianggap sebagai manusia atau sebagai pemuas nafsu belaka.

Begitulah Sahabat, jalan kebatilan itu memang banyak, tapi jalan kebenaran itu hanya satu, begitu kata Baginda Rasullulah. Dalam islam tidak ada istilah pluralisme agama. Tidak ada agama yang diridhoi oleh Allah kecuali islam. Meskipun mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menuju kepada tuhan, tetapi jika jalan yang dilalui salah apakah mungkin akan dapat sampai ke tujuan? Alih – alih bertemu dengan Tuhan, yang ada terlempar jauh ke dasar jurang neraka. Na’uzubillahiminzalik…

Islam dan Toleransi

Meskipun begitu, islam memiliki konsep tasamuh. Sebuah konsep toleransi yang didirikan atas dasar wajibanya bersikap ihsan. Seorang penulis buku Abrahamic faith menukaskan, “Menggagap keyakinan kita yang paling benar bukan berarti menaniadakan hukum toleransi, hal itu justru merupakan puncak tertinggi dalam keimanan.”

Islam memang agama yang paling benar, tetapi tidak harus membuat pemeluknya menjadi pongah alias angkuh. Rasullulah tidak mengajarkan umatnya untuk mengganggu agama orang lain, meskipun pada hatikaktnya agama mereka itu adalah sesat.

Rasullulah hanya menyuruh kita mengajak mereka pada konsep rahmatan lil ‘alamin, berdiri  teguh di atasnya, dan berlayar di atas bahteranya. Jika mereka menolak,  Maka Allah berfirman  “Tidak ada paksaan memeluk agama islam.” Lah wong, yang butuh islam itu mereka, jika mereka menolak tawaran hidup selamat, yah tanggung sendiri akibatnya.

Tetap saja, Allah adalah Rabbul ‘alamin, pencipta alam semesta dan segala isinya, tidak mungkin perintah – perintahnya mencelakakan makhluknya. Sekalipun perintah itu terkesan tegas, seperti jihad di jalan Allah, pada hakikatnya itu adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap umat manusia.

Tidakkah kau sadari bahwa untuk menyembuhkan penyakit diharuskan mengecap sebuah obat yang rasanya begitu pahit. Jadi, pada hakikatnya semua syariat islam adalah rahmat. Terpisahnya islam dari ruh dan jiwa manusia adalah malapetaka. Memperjuangkan agama-Nya adalah kelestarian bagi semesta. Oleh sebab itu, hanya islam yang layak diperjuangkan demi penyelamatan seluruh manusia.

Islam… Oh… Islam Mengapa Engkau Dimusuhi?

Ya… sekalipun manusia berusaha menghancurkan islam dan pejuang pemusnah islam ada sepanjang pentas sejarah, pejuang islam tak pernah habis. Dibandingkan dengan agama – agama lain, Islam adalah agama yang paling banyak dimusuhi. Karena konsepnya yang menyeluruh, yang menentang adanya penyembahan kepada makhluk.

Islam dimusuhi oleh penguasa, karena jika islam benar – benar menjadi sistem dalam pemerintahan itu berarti ia harus berhadapan dengan Hukum Sang Penguasa. Jelas, ia akan turun pangkat menjadi seorang hamba. Itulah sebabnya, mengapa orang – orang kafir quroisy sangat menentang dakwah Rasullulah, karena Islam akan menghancurkan segala pemberhalaan kepada makhluk. Tidak ada ketaatan kecuali kepada Allah. Titik.

“Sesungguhnya orang – orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalanlah bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannamlah orang – orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al An-fal ayat 36)

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS As-Shof ayat 8)

Kau tenang, saja, sobat muslim! Meskipun kini musuh – musuh islam tak pernah henti – hentinya memudarkan cahaya Allah, asalkan kita mau berjuang  meneggakkan Agama yang mulia ini, maka masa depan adalah milik islam dan umatnya. Itu sudah sunnatullah, sob! 

“Berilah kabar gembira kepada umatku dengan kemenangan, ketenangan di negrinya, dan pertolongan Allah, dan kemuliaan agamnya. Siapa yang menjadikan amal akhiratnya untuk dunia, maka di akhirat ia tidak akan mendapat apa – apa” (HR Ahmad)

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan untukku dunia. Maka aku menyaksikannya dari ujung timur dan barat, dan kerajaan umaku akan melampaui timur dan barat seperti yang dikumpulkan untukku, dan aku diberi dua kekayaan (emas dan perak atau kekayaan dua kerajaan rumawi dan persia)” (HR Muslim)

Jangan Hanya Diam, Mari Bergerak!

Umat islam harus bergerak penuh gelora untuk memperjuangkannya.Ya, harus itu, jangan kalah dengan geloranya bung karno! Kau mengerti? Islam adalah pedoman hidup, yang harus diamalkan dan diperjuangkan. Tidak hanya “menyendiri” dipojok – pojok mesjid “melupakan umat”, melainkan harus merambah ke kehidupan nyata. Jangan hanya menghayal membayangkan umat islam akan berjaya selama  berabad – abad seperti dulu.

Untuk kita, nih, sob, sebagai kaum pelajar, peran kita adalah meningkatkan prestasi dengan baik, mempersembahkan seluruh potensi kita untuk islam, serta berakhlak dengan akhlak yang baik. Semua dalil Al-Qur’an dan Sunnah yang global, harus diwujudkan dalam program dakwah yang nyata dalam segala aspek. It’s Improtand, guys..

Dengan upaya semacam itulah, dulu islam dan umatnya yang dianggap kaum pinggiran, benar – benar pernah mampu menaklukan dua kekuatan super power pada masanya : Romawi dan Persia

*Terinspirasi Tulisan Ustadz Yanuar Ariyanto (Dalam Majalah Intisari Hasmi, Vol 23.2012)

mosque
Gambar

Pesantrenku Rumahku


Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamualaikum Sobat Muslim…!!!

Bagaimana kabarmu saat ini? Bagaimana dengan sekolah dan cita – cita yang hendak engkau capai. Awal masuk sekolah memang begitu menegangkan, bukan? Bahan bakar semangat kita benar – benar melimpah sehingga kita bisa mengekspresikan perasaam – perasaan yang meletup dengan sebuah loncatan ide – ide cemerlang. Kadang juga semangat itu bisa menceburkan kita pada keadaan berlebihan. Tentunya itu terjadi jika tidak diimbangi dengan rasa diawasi oleh Allah.

Oh ya, sobat! Sama seperti mereka yang memiliki cerita unik di masa putih abu – abu. Aku juga memiliki cerita menarik di masa jubah abu – abu! Haha, ya, kami menyebut kenangan SMA di pesantren sebagai kenangan Jubah Abu – Abu. Karena disana kami dianjurkan memakai baju tertutup (dan warnanya abu – abu! Hihihi) sebagai bentuk taat kepada Allah, sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri pada Rabb yang maha pengasih, dan untuk menjaga diri kami dari pandangan manusia – manusia liar.

Disana kami diajarkan untuk menjadi wanita muslimah seutuhnya. Wanita yang mengenal kehormatan dan izzah (kesucian diri). Semoga saja, setelah kami menyelesaikan pendidikan di Pesantren, kami akan menjadi muslimah – muslimah yang dicintai Allah dan mengabdi untuk agama dan umat. Do’akan kami ya, kawan…! ^_^ (Stt.. Aku juga mendo’akanmu, sahabat muslim, agar kita sama – sama bisa bertemu dengan Allah di surganya yang indah, insya Allah.)

Lingkungan Pesantren Annajiyah

Tinggal di pesantren Annajiyah serasa berada di rumah sendiri. Kawasannya yang tidak begitu tertutup ditambah dengan berbaurnya kami dengan masyarakat sekitar membuat kami merasa bahwa kami adalah bagian dari mereka. Disana kami pun diberi kelonggaran untuk bermain sebentar keluar mencari keperluan untuk berbuka puasa. Tentunya dengan tidak meninggalkan adab – adab seorang muslimah dan penuntut ilmu.

Pesantren Annajiyah sendiri tidak begitu luas. Sederhana tetapi tertata dan menarik. Yah, bisa dibilang elok dipandang. Arsitekturnya asrama yang cantik dengan paduan warna oren, pink, dan beberapa warna cerah lainnya mengesankan tema fenimim yang anggun plus hiasan – hiasan bunga.

Saung untuk belajar juga disediakan disana. Annajiyah memiliki 2 saung. Saung yang satu terletak di sebelah taman mungil berair mancur. Suara gemericik air membuatku tenang dan rileks.  Sementara saung yang satu lagi terletak di depan asrama, saung ini lebih besar. Biasanya digunakan untuk pengambilan makan santri.

Hal yang sangat kusuka untuk kulakukan di saung ini adalah melihat bulan di saat menyingsing fajar atau saat petang menjelang. Bulan tidak malu – malu menampakkan dirinya. Warnanya oren seperti kuning telur, begitu menggiurkan. Ah! Serasa ingin mencicipinya.

Temanku bilang, disini kita tidak perlu ke puncak gunung untuk melihat sunrise. Kita hanya membuka jendela kamar dan melihat mentari mengintip di celah pegunungan.  Kadang, malam hari juga sering terlihat burung hantu berkeliaran. Aku belum pernah melihatnya, tetapi temanku yang lama sudah merasakannya.

Mereka Kini Keluargaku…

Kau tahu, sobat? Bagiku sama saja apakah aku tinggal di rumah atau di pesantren. Keadaannya pun sama saja. Hanya saja di pesantren kita memiliki banyak sekali keluarga baru. Kakak yang patut kita hormati, adik yang kita jaga dan kasihi, dan guru – guru sebagai orang tua yang kita taati.

Tentang teman – teman disana. Kita harus pandai – pandai memaklumi kealpaan seseorang. Harus bisa berlapang dada memaafkan kesalahan saudari – saudari kita. Begitulah, sobat. Pada yang lebih tua harus mengorhamti dan menghargai mereka. Karena pada kenyataannya mereka lebih dahulu mendulang pahala di dunia ini daripada kita. Sementara yang lebih muda mereka juga lebih baik dari pada kita, karena kita lebih dahulu melakukan kesalahan dari pada mereka. Setidaknya itulah hikmah yang aku petik dari hasil sosialisasiku dengan keluarga baruku.

Oh ya, terkhusus untuk guru – guru disana. Mereka benar – benar memiliki rasa tanggung jawab yang besar, ketulusan, keikhlasan terpancar dari cara mereka mengajar. Bahkan, nih, sobat, nasehat – nasehat yang mereka berikan seringkali membuatku tak kuasa menahan tangis.

Mereka seringkali memberikan nasehat – nasehat tentang sifat – sifat Allah yang sangat baik, tentang nikmat Allah yang begitu besar, tentang bagaimana Allah mencintai hambanya. Selain itu mereka juga mengajarkan kami bagaimana menghadapi hidup ini, bagaimana menyikapi seuatu masalah serta bagaimana menemukan solusinya, serta nasehat – nasehat lain yang menyejukkan jiwa.

Mereka mendidik kami untuk bisa menjadikan hidup ini sebagai lahan ibadah kepada Allah. Mereka mendidik kami menjadi khalifah – khalifah masa depan yang berjuang diatas Agama islam. Subhanallah, semoga Allah membalas perjuangan mereka dengan pahala yang tak terhingga. Amiin.

Para ustadz pun tak kalah dengan guru – guru di SMA umum saat mengajar. Mereka genius rupanya! Hahah, aku tak menyangka dapat mengerti pelajaran mengerikan matematika secepat itu. Itu baru matematika, kawan! Belum pelajaran fisika, kimia, dan yang lainnya. Aku memang belum mencicipi menu – menu itu, sih. Tapi aku rasa mereka juga genius dalam hal itu.

Membangun Masa Depan Meraih Cita

Banyak orang mempercayai kekuatan impian. Sekedar percaya, tidak lebih. Kebanyakan dari mereka hanya mengubah impian itu menjadi benar – benar mimpi. Bukan sebuah cita – cita yang perlu untuk diraih dengan kesungguhan. Aku awalnya menggunakan  konsep itu untuk hidupku. Hanya dengan membayangkan apa yang aku inginkan bagiku sudah cukup. Tetapi ternyata kudapati bahwa setiap kemenangan memiliki harga.

Aku mengerti bahwa ilmu tak mungkin di dapati dengan Cuma – Cuma. Guruku bilang, jika kita mencurahkan seluruhnya untuk ilmu, ia akan memberikan setengahnya untuk kita. Ilmu tidak mungkin dapat dicapai dengan kelemahan.  Jika kita tidak berusaha 100 % maka yang didapat adalah 0 %. Persis seperti lomba lari, jika kita berhenti atau menyerah meskipun di hampir saja garis finis kita tidak akan mendapatkan apapun.

Begitulah, sobat, meskipun aku baru beberapa minggu menginjakkan kaki di pesantren bermanhaj salaf ini, aku sudah memahami beberapa warna – warna kehidupan seperti  arti tanggung jawab, kesadaran diri, kerendahan hati, kepandaian dalam memaklumi, keberanian dalam meminta maaf, pengekangan terhadap kemarahan.

Dan… Aku merasa di pesantren kita akan mengenal siapa Rabb kita sesungguhnya. Seberapa Maha Hebatnya Ia, seberapa Agungnya Ia, seberapa mulianya Ia, betapa pantasnya Ia diibadahi, betapa tidak pantasnya ia memiliki sekutu, betapa ia satu – satunya Raja yang berkuasa, yang menentukan hukum, yang mengerti siapa diri kita sebenarnya.

Haah… Masa orientasi dan daurah 1 bulan di pesantren itu terasa begitu cepat berlalu. Aku harap, seiring berjalannya waktu, aku dapat mengenal Rabbku dengan baik melalui firmannya dan lisan Rasulnya. Dan aku yakin Rumah baruku ini berkenan membantuku mewujudkannya… Semoga.

Mereka Yang Tidak Akan Merugi (Fawaid)


Firman Allah Ta’ala :

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,”(QS al mu’minun : 1)

مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

“Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy Syuura: 52).

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik.” (Al baqarah 25)

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33).
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)

“Katakanlah, “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).

 

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam memerintahkannya.” (QS. Thaha: 132)
قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Yusuf berkata: ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau tidak hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh’.” (QS. Yusuf: 33).
فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu.” (QS. Al-Insan: 24)
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar (adzab) disegerakan untuk mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 35)

 

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مَسْلَمٍ

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ‏”‏ ‏

(HR Muslim)

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ

,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Bukhari nomor 2783).

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari nomor 13).

 

Perbuatan Sahabat

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, dahulu ada dua orang sahabat yang setiap kali mereka bertemu mereka tidak akan berpisah sampai mereka membaca surat Al – Asr hingga selesai.

 

Perkataan Ulama

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ

“Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].

 

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].

 

فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِ [الْعَظِيْمِ]

“Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar” [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

 

Faidah – Faidah :

  1. Besarnya kandungan surat Al – Asr
  2. Pentingnya mengamalkan surat Al – Asr
  3. Seluruh manusia berada dalam kerugiaan kecuali mereka beriman sebagaimana yang Allah katakan dalam surat Al mu’minun.
  4. Keimanan tidak akan didapat kecuali dengan ilmu, karena Allah berkata dalam surat As ayu’ ara bahwa dahulu kita ini tidak mengetahui apa itu al Quran dan iman, kemudian Allah memberi cahaya berupa ilmu sehingga ketika bisa memahami keimanan.
  5. Mereka yang berilmu akan terus berada dalam kerugian kecuali mereka mengamalkan ilmu mereka. Karena orang yang memiliki ilmu pada hari kiamat tidak akan beranjak di hadapan Rabbnya sampai ditanya ilmu apa saja yang telah dia amalkan.
  6. Mereka yang sudah memiliki ilmu harus mendakwahkan ilmu mereka di jalan Allah. Berdakwah di jalan Allah merupakan jalan para nabi dan yang mengikuti mereka. Dakwah merupakan sebaik baik perkataan di sisi Allah. Dakwah di jalan Allah merupakan bentuk cinta kepada mukmin. Cinta kepada mukmin merupakan salah satu bentuk kesempurnaan iman.
  7. Mereka yang sudah berilmu, beriman, beramal, dan berdakwah harus bersabar. Jika keempat ini terpenuhi mereka akan terhindar dari kerugian.
  8. Kesabaran terdiri dari tiga jenis : Pertama : bersabar terhadap ketaatan sebagaimana yang Allah perintahkan dalam surat Thaha ayat 132, kedua : bersabar untuk menghindari kemaksiatan sebagaimana yang dicontohkan nabi yusuf dalam Al qur’an ketika beliau berusha menahan hawa nafsunya karena takut kepada Allah, dan ketiga : bersabar terhadap takdir Allah sebagaiaman yang Allah perintahkan dalam surat Al insan.
  9. Surat Al – Asr menjelaskan prinsip kesuksesan diri sendiri dan orang lain.

Perkenankan Aku Menjadi Sahabatmu


Burung menyukai pagi, kupikir begitu. Ia senang melihat mentari yang tersenyum hangat dipadu dengan kesejukkan embun. Hingga membuatnya melantunkan suara kegembiraan dari paruhnya yang mungil. Seolah – olah ia tidak peduli bahwa matahari akan sedikit sangar beberapa jam yang akan datang. Ia tetap bergembira. Lalu ia menjelajahi angkasa mencari energi makanan untuk membakar semangat hidupnya.

Aku juga menyukai pagi. Karena pagi adalah kehidupan baru. Lembaran lama yang menyedihkan ditutup, lalu kita bisa merencanakan hal baru dan memperbaharui harapan. Pagi hari menyediakan falsafah kehidupan yang bijak bahwa kegelapan akan sirna dan berganti dengan cahaya. Selalu begitu. Tetapi pagi ini menyapaku sedikit berbeda, kudengar ia berkata “Ucapkan selamat datang untuk sahabatmu. Katamu kau menanti kehadirannya dan tak sabar mengajaknya untuk mencari siapa kau dan dia sebenarnya.”

Oh… ya! Tentu saja!

Ehmm… Hai sahabat?

“Hanya itu saja? Keluarkan isi hatimu! Jangan buat dia menunggu.”

Bagaimana kabarmu, kawan? Kicauan burung tadi indah, bukan? Kutitip senyum untukmu melalu kertas ini.

“Sudahlah keluarkan saja. Itu sudah cukup untuk menjadi permulaan. Kau berlatih banyak untuk mengungkapkan kata – kata itu, kan? Aku tahu kau tidak ingin terlihat pura – pura mengenalnya. Tetapi sepertinya dia berbaik sangka padamu. Katakan saja!”

Baiklah, Pagi. Aku titip sepucuk surat ini diantara serangkian goresan pena yang kutulis untuk sahabatku disana. Semoga sejuknya udaramu bersedia menghembuskan kata – kata ini ke dalam hatinya.

Bismillahirrahmanirrahiim Teruntuk Sahabatku, Di Bumi Allah

Salam Sayang…. Bagaimana keadaanmu saat ini, kawan? Aku mengkhawatirkanmu sejak beberapa lama ini. Aku berharap kita mampu melewati dunia remaja kita dengan baik. Semoga Allah menjaga kita dan membimbing kita menuju surgaNya yang indah. Sebelumnya aku memohon maaf karena (mungkin) telah lancang menyebutmu sebagai sahabat sebelum aku mengenalmu. Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa aku ingin sekali menjalin pertemanan denganmu. Semoga saja dengan surat ini hatimu terbuka untuk menerimaku.

Teman… Aku mencintaimu. Mungkin kau menganggapku tidak waras dengan ungkapanku ini dan otakmu serasa tersengat lebah seketika. Ya, itu berlebihan, tapi kau harus percaya padaku pasti ada satu hal yang membuatku berani mengungkapkan kalimat bombastis itu padamu. Sekarang aku serius, dengarkan aku baik – baik. Aku mencintaimu karena satu hal besar yang aku yakin ada dalam dirimu. Sebuah hal besar yang meninggikan harapanku juga kepercayadirianku bahwa kau akan menerima goresan pena ini. Satu hal besar itu adalah keimanan. Kau tahu mengapa? Karena keimanan akan tumbuh dengan ilmu dan peringatan akan diterima dengan baik oleh mereka yang beriman.

Teman, beberapa dari kita mungkin menganggap remeh keimanan yang telah Allah anugrahkan pada kita. Menurutnya keimanan tidak memberikan efek apapun dalam hidupnya. Seolah – olah ia mengatakan, ia bisa hidup tanpa Allah. Na’udzubillah.

Ah, kawan! Percayalah, di hari saat kita benar – benar akan menghadap Allah dengan pandangan tertunduk penuh ketakutan, di hari ketika matahari hanya berada sejengkal dari ubun – ubun kepala kita, hari dimana semua perbuatan dipertanggungjawabkan, satu hal yang paling kita butuhkan adalah keimanan.

Jangan bayangkan bahwa hidup ini hanya saat ini saja, kita terlalu bodoh untuk mengatakan bahwa kebangkitan itu tidak ada. Aku mengerti bahwa keimanan itu masih global, tugas kita memperincinya sehingga bisa mengakar kuat di hati kita. Sekalipun terkadang keimanan itu meredup, ia akan kembali bercahaya dengan ilmu. Oleh sebab itu di atas kendaraan pertemanan yang digerakkan oleh putaran roda kata – kata ini kita akan menyusuri samudra ilmu. Kita akan kembali ke abad dimana para ulama mengukir sejarahnya, kita akan duduk bersama mereka untuk mendengarkan perkataan – perkataan mereka tentang ilmu. Aku berharap kita berhasil.

Tugas cinta adalah memberi. Aku tidak memberimu sesuatu hal yang mewah atau mentraktirmu makan di restauran bergengsi layaknya seorang teman yang loyal. Aku pun tidak memiliki sesuatu istimewa yang bisa kau banggakan saat menerima pertemanan ini (Ini lucu, aku mempromosikan diriku sementara aku tidak memiliki hal istimewa). Tetapi aku hanya memiliki beberapa butir kepedulian yang kuungkapkan dengan “bertemanlah denganku.” Kepedulian untuk menghapus mata rantai ketidakbenaran dan kebimbangan bersamamu. Jika aku berhasil meletakkan lilin cinta ini di dalam dadamu berarti kita bisa bekerja sama untuk menemukan peran penting kita dalam kehidupan.

Di surat ini aku ingin meyakinkanmu juga diriku bahwa cinta ini tidak akan sia – sia. Aku percaya padamu, bahwa kau tidak akan merobek surat ini menjadi beberapa serpihan atau membakarnya dengan angkara murka di wajahmu. Tidak! Aku tidak mungkin keliru! Cinta ini tidak akan bertepuk sebelah tangan. Kau akan menerimannya, benar? Karena keimanan yang ada di dalam hatimu akan membuatmu mengulurkan jari kelingkingmu untukku dan aku menerimanya dengan jari kelingkingku.

Perkenankan aku menjadi sahabatmu, menjadi bagian dar idirimu. Aku ingin kita bisa menyatukan pikiran kita untuk menemukan siapa diri kita sebenarnya. Mengusir kegalauan tentang hakikat hidup ini. Menemukan bagaimana kita seharusnya bersikap. Memperingatkan diri kita dengan murka dan adzab Allah yang pedih dan menyemangati hari – hari kita dengan janji – janji Ar-Rahman tentang kekalnya kebahagiaan orang – orang yang bertakwa. Hingga akhirnya kita bergandengan tangan menuju Rabb yang Maha Agung dalam keadaan saling mencinta karena-Nya, sukses merebut naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.

Keimanan, cinta, dan goresan pena ini adalah sebuah tanda persahabatan antara kau dan aku. Tidak perduli seberapa jauh jarak yang memisahkan persahabatan kita, selama keimanan, cinta, dangoresan pena ini masih berada di sisimu persahabatan ini akan tetap terjalin, insya Allah. Sekarang perkenanankan aku menyebutmu “sahabat”

Dari sahabatmu

Ridfa_Tha

 

Bagaimana pagi tersenyum? Kita bisa mengetahui bahwa matahari tersenyum dengan hangatnya, bunga tersenyum dengan mekarnya, dan burung tersenyum dengan kicauannya. Lalu bagaimana pagi mengekspresikan senyumannya? Aku merasa pagi menjawab bahwa ia tersenyum karena melihatmu tersenyum, menerima jalinan pertemanan ini. Pembicaraan rahasiaku dengan pagi adalah seputar dirimu.

Pagi setidaknya merasa lebih rileks saat ini, karena aku tidak lagi mendesaknya untuk mendengar kegundahanku mengatakan hal ini padamu. Kini aku bisa merasakan bunga-bunga pohon sakura berjatuhan dan mendarat di wajahku. Tetesan embun yang menempel di kelopaknya mengalir di pipiku, kesegarannya membuat hatiku tergelitik bahagia. Begitulah rasanya saat aku akan mengucapkan.

“Selamat datang, Sahabat! Ayo temukan jati diri kita sebagai seorang muslim!”

Masa Awal Remajaku : Keabstrakan Paradigma


Pencarian jati diri merupakan permasalahan serius bagi para remaja. Tak terkecuali aku. Saking pusingnya mencari jati diri aku sempat berpikir bahwa aku gila! Yups, kamu tahu? Ketika aku sedang serius – seriusnya mencari jati diri. Aku bisa berbicara dengan diriku sendiri di cermin berjam – jam. Lalu tiba-tiba menangis, tertawa, ataupun marah – marah! Sebenarnya mungkin bukan karena susahnya mencari jati diri aku berpolah seperti itu, mungkin dasar kejiwaanku yang harus diperbaiki.

Terlihat berat? Kamu bagaimana? Mungkin tidak seekstrim diriku, ya? Atau mungkin kamu enjoy saja dan tidak memusingkan semua itu. Eitss! Hati – hati loh sobat, kalau jati diri tidak kita temukaan saat ini, ketika dewasa kita kewalahan. Padahal saat dewasa itu bukan proses mencari lagi tapi sudah mulai mengendalikan dan menjalanankan fungsi jati diri. Coba tebak mengapa? Ketika kita sudah dewasa kita sudah harus benar – benar menjadi hamba Allah yang baik. Meskipun begitu sekarang pun kita sudah dibebani syariat, sudah dikenai kewajiban untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan melaksanakan apa yang Allah larang. So… jangan sampai telat atuh!

Oke! Jadi sekarang ini bagaimana?

Sekarang aku ingin curhat saja kepadamu.

Loh? Bukankah kita sudah sepakat bahwa kita ini sahabat? Jadi, tidak masalah, bukan, jika aku berkicau di hadapanmu. Aku tidak memaksa, kok, jika kamu tidak bersedia. Berkenalan dengan orang baru tentu membutuhkan beberapa aksi adabtasi, kan? Setidaknya untuk saat ini aku punya sebuah pengalaman yang gregetan ingin aku ungkapkan padamu. Bersabarlah, kawan, jangan biarkan aku meledak karena memendam kicauan sumbangku, deh! Yah… semoga aja kita bisa berbagi pengalaman tentang jati diri kita. Jadinya hidup yang cuma sekali ini berharga untuk selamaanya..! Oke?!

Aku tiba – tiba melihat sesuatu yang bimbang, membingungkan, dan tak berbentuk, kawanku. Itu seperti abstrak. Mereka, abstrak itu, tidak hanya tanpa bentuk melainkan tanpa ukuran, jenis, dan volume yang dapat dihitung secara matematis. Begitulah hidupku berjalan, Abtsrak! Setiap kejadian demi kejadian tak dapat kumengerti meskipun semuanya terlihat sangat jelas. Serasa tampak bagikan benang kusut yang sulit untuk diatur.

Aku sempat berpikir, jadi inikah yang dimaksud dengan kehidupan remaja yang indah itu? Masa dimana seseorang manapaki jalan emas untuk menempuh hidupnya? Inikah yang orang dewasa maksud: kehidupan abtrak tanpa bentuk? Oh… sungguh menyedihkan! Mereka berdusta dengan dutsa yang paling kejam yang pernah aku temui (belakangan ini baru aku tahu bahwa mereka sebanarnya tidak berdusta, hanya aku saja yang tidak memahami). Yang benar saja, aku selalu menantikan hari-hari ini. Hari dimana umurku bertambah sedikit demi sedikit hingga menjejali usia yang orang dewasa bilang remaja, dan aku pikir aku akan merasa masa emasnya seorang remaja. Kamu tahu apa yang kudapat? ABSTRAK! Sudah tidak lebih.

Baik akanku jelaskan abstrak apa yang kumaksud. Mari membandingkan dengan kehidupanku yang sebelumnya, yaitu saat orang deawsa bilang aku dulu masih kanak-kanak yang tidak mengerti apapun. Bahkan aku rasa lebih baik terus menerus menjadi anak – anak. Aku bebas sebebas bebasnya seperti burung yang mempunyai sayap lebar dan dapat terbang tinggi kemanapaun, menjelajahi apapun, dan mendarat dimanapun sesuka hatiku. Dulu, aku tidak memikirkan apapun yang terjadi, tentang kehidupan ini, tentang duniaku dan dunia orang – orang. Aku melihat dunia dengan sangat simpel.

Dan, sekarang? Oh jangan tanyakan padaku! Ini sudah lebih dari cukup! Cukup membuatku menderita di masa yang kata orang dewasa masa emas. Ih… aku jadi memikirkan semuanya. Memikirkan orang – orang, pohon – pohon, gunung, bumi, gedung – gedung, langit, dan seolah mereka semua berbicara kepadaku dan memberiku makna. Sayang! Aku tidak bisa bahasa mereka.

Kamu tahu? Otakku sekarang mempunyai banyak ranting dan cabang yang siap menembus keluar kepalaku dan menusuk nusukinya. Pemikiran – pemikiran baru yang membuat kepalaku serasa mau pecah. Aku seakan melihat dunia yang baru dan sangat luas, dan bingung mau berlari kemana, dimana tempat yang aman, dan melakukan apa. Karena aku melihat segalanya. Segalanya yang tidak dapat aku mengerti.

Please Be Calm, My Soul


Please Be Calm, My Soul

In the solemn and beautiful night

At 10.15 pm

August 1 2013

 

Hey Soul! I Know who you are. I know how bad you are. I know how you feel regret about yourself. I know you feel fed up with your self. And, I know you don’t like your self. But, you must remember this important point, you are Allah’s creation. How it can possible if you hate yourself meanwhile Allah love you?

 

Whatever happened, you just face it! My soul, face it with faith in your heart. Don’t be sink with your fault. Everbody had fault, but the better whose fault is repent and for swear to Allah.

My Soul, keep my gladness to you. Allah gives you a big grace! Do you see it, don’t you? You feel proud to be able worship Allah! Do you realize that was your greatest happiness?

 

My Soul, come on stand up! Don’t be weak like that! It is not you, isn’it? You have to look your day in the future and begin open new page of your life. Ask your God, My Soul! Ask The owner of the heavens, The Owner of the earth. Ask him with his good names.

           

Then, write sweet moments in new page about your fantastic life. Don’t be sad, surely Allah with us!

Kutipan

Istiqamah dan Kiat Meraihnya (Fawaid)


Aفَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Surat Hud ayat 112)

 

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَاعِزٍ، عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ

اللَّهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ ‏“‏ ‏.‏ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَىَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ هَذَا ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ ‏.

 

“Dari sufyan bin abdullah atsaqafiy berkata, wahai rasulullah katakan kepadaku sesuatu yang aku akan berpegang teguh dengannya. Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Katakanlah tuhanku adalah Allah kemudian beristiqamahlah.” Aku kemudian bertanya, “Wahai rasulullah apakah sesuatu yang paling engkau khawatirkan padaku?” maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memegang ujung lidahnya sendiri kemudian berkata, “Ini” (HR At tarmidzi no. 2410)

 

حدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الصَّهْبَاءِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَفَعَهُ قَالَ ‏”‏ ذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا ‏”‏ ‏.‏ حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ مُوسَى ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ وَقَدْ رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ وَلَمْ يَرْفَعُوهُ ‏.‏ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الصَّهْبَاءِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ أَحْسَبُهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ نَحْوَهُ

 

“Diriwayatkan dari Abu Sa’ id radhiyallah ‘anhu, dia memarfu’ kannya kepada rasulullah, beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda jika anak keturunan Adam berada di pagi hari seluruh organ tubuh tunduk kepada lidah dengan berkata, ‘bertakwalah kepada Allah pada kami karena kami bersamamu. Jika engkau istiqamah kami juga istiqamah. Jika engkau menyimpang kami juga menyimpang. (HR At tirmidzi no 2407)

 

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَحْتَجِرُ حَصِيرًا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي، وَيَبْسُطُهُ بِالنَّهَارِ فَيَجْلِسُ عَلَيْهِ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَثُوبُونَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَيُصَلُّونَ بِصَلاَتِهِ حَتَّى كَثُرُوا فَأَقْبَلَ فَقَالَ ‏“‏ يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قل

 

“Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit.” (HR Bukhari no 5861 dari ‘Aisyah radhiyallah ‘anna)

 

Faidah – Faidah :

Allah memerintahkan hambanya untuk beristiqamah di jalan yang lurus dengan istiqamah yang tidak melampaui batas. Artinya pertengahan dalam istiqamah. Karena hal itu dapat membuat istiqamah dapat terus dilakukan. Hal ini sebagaimana yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sabdakan bawa amalan yang paling Allah cintai adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit. Rasulullah juga menganjurkan umatnya untuk melaksanakan amalan ketaatan sesuai kemampuan dan tidak memberati beratkan.

Istiqamah di atas keimanan kepada Allah adalah hal yang paling utama untuk dipegang erat. Hal ini tampak jelas saat salah seorang sahabat bertanya kepada rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tentang hal yang harus ia pegang teguh.

Tolak ukur keistiqamahan adalah lisan. Jika ia mampu menjaga lisannya untuk selalu berkata yang baik maka bagian tubuhnya yang lain pun akan turut istiqamah.

Ketulusan, Kelembutan, dan Kesabaran Dakwah Al anbiyaa’


Pesantrenku Rumahkuوَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُون “Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri”. (Ibrahim ayat 12)

Jika kita memperhatikan metode dakwah para anbiyaa ‘alaihi shalatu wasalam kita akan mendapati bahwa kunci sukses dakwah mereka adalah kesabaran dan kelembutan. Kunci sukses dakwah mereka bukanlah banyaknya pengikut atau harumnya nama mereka dimata kaumnya. Memang para pengemban dakwah yang tulus tidaklah menyeru kepada dirinya melainkan menyeru kepada jalan Allah. Banyak diantara mereka ‘aliahimus shalatu wa salam didustakan bahkan disiksa. Ya, inilah potret teladan indah manusia manusia suci yang benar benar menyampaikan risalah tanpa dilumuri dosa riya’.

Mereka yang telah terjun dalam dakwah akan nampak mama yang ikhlas dan mama yang melakukan syirik khafiy. Siapakah yang menyeru kepada jalan Allah dan siapakah yang menyeru kepada kehormatan dirinya pun akan nampak.

Barometernya jelas, para anbiyaa’. Mereka ‘alaihishalatu wa salam adalah manusia mulia tetapi rela dihina demi tegaknya kalimat Allah. Sementara da’i yang mengaku menyeru kepada jalan Allah tidak sudi jika orang – orang mengabaikan dakwahnya atau meremehkan nasehatnya. Subhanallah….

Da’i yang tulus mencintai umat agar menempuh jalan Allah harus bersabar dalam berdakwah. Ini harga mati. Tidak pantas seorang da’i mengharuskan umat untuk berubah dalam sekali nasehat saja.  Manusia membutuhkan proses yang menyakitkan untuk mengobati hatinya. Kesembuhan tidak datang seketika hanya dengan mengonsumsi satu kali obat. Dokter yang cerdas tentu akan menyarankan agar pasiennya mengonsumsi obat secara berkala agar kesembuhan dapat diharapkan.

Begitupula seorang pendakwah yang cerdas! Ia harus berdakwah dengan kesabaran, tidak terburu buru mengharuskan orang berubah dengan satu atau dua nasehat. Satu hal yang sangat disayangkan adalah ketika dia berani mencerca orang yang dia dakwahi ketika tidak melaksanakan nasehatnya. Saya rasa hal ini perlu ditanyakan, “Anda berdakwah kepada kehormatan diri anda atau kepada jalan Allah? Jika anda berdakwah kepada kehormatan diri anda tentu anda akan marah ketika perintah anda ditolak. Tetapi jika anda berdakwah di jalan Allah, maka tempuhlah jalan yang dilalui para anbiyaa’ : bersabar terhadap gangguan dan terus berdakwah dengan kelembutan.”

Bagi mereka yang telah bertekad terjun di medan dakwah perlu sekali kiranya memperbaiki niat. Katakan kebenaran meski nama baik menjadi taruhan. Hiburlah diri dengan kisah para manusia mulia, al anbiyaa ‘alihimushalatu wasalam, yang nama mereka buruk dimata kaumnya hanya karena dakwah mereka menuju Allah, namun tentu harum abadi dalam Al qur’an.

Katakan kebenaran meski harga diri harus terinjak di tanah. Lihatlah para manusia mulia, Al anbiyaa’, ketika mereka harus dituduh manusia gila atau bodoh dan mereka tetap bersabar. Sungguh kehidupan mereka adalah potret indah manusia manusia tulus sepanjang zaman.

Berdakwahlah dengan kesabaran dan kelembutan. Tetaplah lembut, karena nabi Musa ‘alaihi shalatu wa salam pun diperintah menyeru fir’aun dengan lembut. Tetaplah sabar meski mulut mereka penuh dengan cacian. Tetaplah tersenyum sembari tawakal menancap kuat di dada. Berdakwahlah kepada Allah dan tinggalkan kesombongan dan keegoisan. Kembalikanlah ketulusan dan ikutilah jalan manusia manusia mulia, Al anbiyaa.

Memadamkan Api Dengan Api


Dalam hidup ini selalu saja ada hikmah yang menyapa. Hikmah yang memberi kita arti agar lebih dewasa. Tinggal bagaimana kita mampu berkarib dengannya dan memberi banyak perhatian untuk memahaminya.

Aku mendapatkan pelajaran berharga bahwa kebaikan dan kesabaran hanya akan membuahkan kebahagiaan dan cinta. Sungguh benar firman Rabbku dan sabda nabiku. Orang – orang yang beriman adalah yang selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Hati orang orang mukmin diliputi cahaya. Hidup mereka adalah penerang bagi yang lain.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Ah… Betapa indahnya jika hidup ini selalu dilingkupi kebaikan. Untuk apa kita membalas keburukan dengan keburukan? Bukankah memadamkan api dengan api hanya akan menimbulkan kehangusan yang lebih banyak. Mengapa untuk berbuat baik saja kita harus terpengaruh dengan sikap orang lain kepada kita? Mengapa kita harus menjadi orang yang tidak berpendirian? Plin plan? Bukankah orang yang mengaku berpendirian teguh adalah orang yang tetap menjadi pribadi yang baik apapun yang terjadi.

Maha Suci Allah yang kepadaNyalah segala kebaikan bermuara.