Tauran, Wujud Nyata Jati Diri???


Beberapa waktu lalu, ada pensetrapan masal di sekolahku. Mereka buanyaaaak sekali, isinya laki – laki semuah…! Serem! Ternyata setelah kuselidiki mereka adalah anak – ana jagoan dengan aksi brutalnya, TAURAN!

Aku jadi tertarik dengan kondisi psikologis mereka. Sehingga aku berusaha menuliskan hasil risetku (mungkin hanya bisa dibilang opini). Semoaga bermanfaat! :)

Aku berusaha memahami laki – laki dalam masalah ini. Dari sifat alaminya, laki – laki tentu ingin dipandang sebagai orang yang gagah, perkasa, kuat (kecuali laki – laki yang abnormal, ya… itu ga masuk daftar, lo…!), seperti atau persis sama dengan yang ada di tv – tv . Ya, ndak?  Iya apa iya?

Dari kecil anak laki – laki sudah mempunyai naluri berlaga seperti superhero. Aku mengerti hal itu memang sudah sifat alami yang diberikan oleh Allah yang maha pengasih.

Menurut hematku, sih, laki – laki ingin menjadi bernilai di mata kaumnya. Dan aku rasa kaum wanita juga seperti itu. Di kelas ku bahkan, demi menunjukkan segala keperkasaannya dan menajadi pusat perhatian, mereka beradu ikat pinggang dan bermain smack down! (maaf kalau tulisannya salah) padahal kau tau? Mereka itu sudah kelas 3 SMP! Bukan anak TEKA lagi yang berbuat tanpa rasa malu. Tapi… yah kembali pada naluri tadi, mereka ingin terlihat perkasa dan jadi pusat perhatian.

Yah,,, aku mengakui! Sulit mengerti kejiwaan seorang laki – laki. Aku hanya berusaha menyederhanakan permasalahan dalam mengambil kesimpulan, tidak ingin berbelit – belit ah! Nanti akunya pusing, lagi!

Sebenarnya tidak banyak sih yang aku ambil dari mereka. Aku harus melakukan riset dan turun ke lapangan langsung utnuk mengerti keadaan mereka yang sebenarnya. Tapi aku malu ah! Takut! Jadinya aku memperhatikan mereka dari jauh lewat telepati aja! Hehehe… :)

Sejatinya, lelaki itu juga manusia (emang apa lageee?). Di balik keganasannya,  mereka punya sesuatu yang terpendam dalam hati mereka. Mungkin sifat mereka yang sangat liar itu disebabkan oleh faktor – faktor yang membuat mereka ingin memberontak terhadap kenyataan.

Yah! Kenyataan … kenyataan… kenyataan lagi! Remaja memang harus bertarung dengan kenyataan saat melihat segalanya. Manusia diberikan bekal oleh Allah untuk survive terhadap segala macam bahaya. (tentunya atas izin dan bantuan Allah, karena tanpa itu segalanya tak mungkin terjadi)

Oke kembali pada kenyataan bahwa lelaki itu adalah manusia. Apalagi mereka juga remaja (kita membahas remaja, ya. bukan pria dewasa yang sudah matang. Mereka tak peru dibahas. Kalaupun  mau dibahasa silahkan tanya pada pak mario teguh  aja ya..!) Masa remaja adalah masa dimana seseorang ingin dituntun dan didengar pendapatnya (Mungkin inilah sebabnya mengapa mereka lebih suka berkelompok – kelompok) Tetapi, sayangnya orang tua justru bersikap terlalu over memaksa atau terlalu longgar menerima.

Tuh, kan… lagi – lagi ke orang tua! Hello bapak – bapak… ibu – ibu… dengarkanlah curahatan kami! Ayo demo, kawan! Jangan biarkan aku berkoar sendirian! Tapi jangan demo depan orang tuaku ya, BERABE…!

Yups! Aku rasa peran keluarga sangat penting. Oke aku tidak perduli ada berapa banyak orang yang bicara masalah ini. Aku tau ini tidak orisinil. Tetapi untuk memahami mereka kita harus berusaha mengenal latar belakangnya.

Tauran… sebagai bentuk pelampiasan atas pencarian jati diri. Hmmm??? Menurutku ini aneh. Tapi, menurut mereka itu adalah hal yang paling menyenangkan. Dengan tauran mereka seolah menjadi dirinya sendiri dnegan segala keperkasan, kekuatan, kagagahannya. Yah… bisa dibilang jalan pintas untuk mengeluarkan naluri itu.

Baiklah, kita masuk ke penyelsaian masalah (semoga tidak menimbulkan masalah baru, ya kawan…!). Dalam hidupku aku membuat kesimpulan bahwa orangbijak adalah orang yang dapat meletakan sesuatu sesuai ukurannya, pada tempat yang seharusnya, bagaimana dia harus bersikap. Dan kau tau? Dan bagiku Islam telah memudahkan manusia untuk melakukannya.

Hal yang paling utama untuk diperhatikan adalah manusia punya naluri. Laki – laki punya keinginan untuk terlihat gagah dan wanita ingin terlihat menawan. Masalahnya (yang dari tadi gak kelas – kelar) adalah bagaimana cara melampiaskan naluri itu?

Allah, tuhan yang Maha Esa tidak perna menjadikan manusia sebagau robot. Oleh karena itu, Allah itu pernah memaksa hambanya untuk melakukan suatu hal. Dia justru memberikan pilihan kepada manusia (tentu dengan konsekuensinya!) tentunya setiap pilihan memeliki keunggulan tersendiri. Ada jalur yang baik (tetapi terlihat tidak begitu keren- menurut presepsi anak gaol) ada jalur yang buruk (terlihat keren).

Ada jalur  yang sangat mudah dilalui dengan cepat sebagai jalan pintas pelampiasan (seperti jalur tauran) . Mengenai ini aku jadi teringat sebuah ungkapan yang mengatakan cepat matang berarti cepat busuk. Jalur yang singkat dan cinderung tergesa-gesa pada akhirnya akan membuat kesengsaraan. Sementara jalur dengan proses yang bertahap, bersabar, dan benar akan menghasilkan suatu kepuasan saat mencapai puncaknya. Itu sudah ketentuan Allah (Sunnatullah).

Hmmm, sebenarnya masih banyak cara untuk melampiaskan sosok kepahlawanan dalam diri manusia. Yang tepat, benar, dan sukses. Menurut Rosullulah Saw, contoh teladan kita, Pahlawan bukanlah orang yang berani menancapkan pedang di leher lawan tetapi yang mampu meredam amarahnya. Nah, kalo tauran? Hmmm… kayaknya jauh dari kata pahlawan, deh…

Ehem – ehmm kalaupun mau yang dengan kekuatan, kita bisa menyalurkannya melalui Jihad di jalan Allah. Seperti membantu kaum – kaum muslimin yang tertindas dan terjajah. Masih inget Palestina, kan? Wew, dimana sifat pahlwan itu, sobaaaaat??? (yang insyaf… yang insyaf…!)

Semua memang butuh perjuangan, kawan. Mencari jati diri bukanlah hal semabrangan. Salah menemukan jati diri  akan fatal akibatnya. Dengan cara tauran untuk menunjukkan jati diri memang akan membuat terlihat perkasa yang setelah itu terlihat seperti pecundang.

Mari kita coba baca realita, memang saat tauran tubuh seolah mengeluarkan adrenalin yang besar. Lalu, diri merasa hebat. Tapi, setelah itu, setelah terjadi kerusakan dimana – mana, tak ada wujud nyata dari keperkasaan, yaitu tanggung jawab.

Saya tidak tahu apakah mereka akan mengerti apa yang saya utarakan. Saya juga tidak tahu apakah tulisan “aneh” ini bermanfaat atau tidak. Terlepas dari bermanfaat atau tidak, bagus atau jelek, aneh atau …(lawan kata aneh apa, sobat?) saya harap sobat mau berkomentar. Supaya saya tau dimana letak kekurangan dan kelebihan saya. Seep!

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua (terutama yang hobi taurann…. )

About these ads

Posted on Oktober 18, 2011, in Ibroh, Inspirasi dan Motivasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan komentar untuk menjalin persahabatan yang Indah...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: